Entri Populer

Minggu, 21 Desember 2014

MESSAGE / Part 1


Genre  : Sad Romance, NC 21

Cast     : - Jeon Jungkook
                - Yoon Hi

Author : Tha9097

 * Hallo, author mau ngasih ff nih, meskipun nc tp untuk part ini masih belum ada unsur NC nya, jadi masih aman di baca. selamat membaca ^^ *


                Sudah hampir setahun aku tak berbicara dengannya secara langsung. Yang bisa ku lakukan hanyalah menyapanya lewat akun SNS yang terselip di kolom ribuan komentar lainnya. Hanya saja bedanya aku dengan ribuan orang itu adalah, aku mengenalnya dan masih bisa mengobrol lewat pesan pribadi akun SNS lainnya.

                Lelaki itu, yang kini semakin terasa jauh untuk ku gapai. Dengan bodohnya aku masih saja berharap ia menyadari perasaan yang aku simpan untuknya selama 3 tahun ini. Entah berapa ribu pesan  dan status yang ku kutujukan padanya , meski tak secara terang-terangan ku katakan harusnya dia mengerti apa maksudku. Apa karena dia terlalu muda dan polos bahkan hal seperti itu tak ia sadari. Atau dia terlalu sibuk sampai tak meliriknya sama sekali.

                Masih lekat di ingatanku 2 tahun silam sebelum ia pergi dan mengejar cita-cita setelah bangkit dari keterpurukannya karena cinta. Itu pula yang mempersempit kesempatannku dan andai saja wanita itu tak datang merusak segalanya, tidak akan sesulit ini bagiku untuk mengungkapkan perasaanku pada lelaki itu.

“ noona, apa kau sedang sibuk? Maaf aku baru bias membalasnya.”

Sebuah pesan yang sudah beberapa hari ini aku tunggu dari lelaki yang ku sukai ini akhirnya membalas pesanku juga.

“ tidak, aku baru saja menyelesaikan tugas kuliahku. Apa kau sudah makan?”

Entah itu terlihat jelas atau tidak baginya, tapi tidakkah sedikit saja ia menyadari perhatiannku ini. Atau mungkin dia terbiasa dengan pertanyaan yang selalu aku tanyakan setiap kali berkirim pesan dengannya.

“ Tentu saja sudah, aku tak akan melewatkan begitu saja makan malamku kekeke~ “

Dia benar-benar cute bahkan hanya dengan membaca tulisannya saja semakin membuatku gila karna merindukannya.

“ Baguslah kalau kau sudah makan. Kau harus menjaga kesehatanmu, arra!”

“ Baiklah aku mengerti. Noona, apa kau masih sakit? Aku membaca status kakaotalk-mu tadi.”

“ Aku baik-baik saja sekarang.”

“ Sepertinya kaulah yang harus menjaga kesehatanmu noona. Tinggal di Seoul sendirian tidaklah mudah.”

“ Iya iya aku mengerti.”

“ Noona, aku harus kembali berlatih sekarang. Manager sedang menatapku sinis karna terlalu lama memegang ponselku.”

“ Baiklah, hubungi aku jika kau ada waktu luang.”

Percakapan yang singkat tapi begitu berarti bagiku, meski ia tak lagi membalas pesanku atau menghubungiku lagi selama beberapa hari. Dan sebagai gantinya, aku akan sibuk seharian denga ponsel atau laptop ku mencari informasi seputar kegiatannya hari ini. Atau mengecek update dari akun twitter milik grupnya. Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apa otaku sudah tidak waras lagi? Kenapa aku terlihat seperti sasaeng fans?

“ Apa? Fansign? Gangnam? Besok?”.

Aku membelalakan mataku karna terlalu senang setelah membaca postingan di salah satu fanpage, karna tempatnya dekat dengan kampusku. Itu adalah bonus karna besok aku hanya punya satu mata kuliah di pagi hari dan sisanya waktuku sangat banyak. Aku mempersiapkan segalanya dan mulai berbelanja ini dan itu.
               
Tiba saatnya giliranku, setelah beberapa jam menunggu antrian panjang untuk hanya bertegur sapa dengan lelaki yang aku sukai setelah setahun lamanya tak melihatnya secara langsung.

“ Yoon hi noona?”

“Annyeong”

“ Kenapa kau bias datang?”. Ucap Jungkook sambil mencoret tandatangannya dengan masih memandangku tak percaya.

                Aku memberikan beberapa hadiah dan sebuah kertas note kecil padanya dengan tulisan yang sudah aku siapkan karna aku tahu hal ini akan terjadi.

“ Kecilkan suaramu bocah tengik! Apa kau ingin aku mati sepulang dari sini!!! Aku kesini karna kau mengingkari janjimu untuk menemuiku!”

Dia membalikan kertas note lalu menuliskan sesuatu disana dan memperlihatkannya padaku  sebentar setelah itu ia memasukannya ke saku bajunya. Disana tertulis “ Maafkan aku, tapi aku senang kau datang.”
               
Sepulang dari fansign dengan bahagia, aku kembali berkutat dengan tugas kuliahku yang tanpa henti. Aku memang haya punya waktu luang yang benar-benar luang di hari sabtu dan minggu saja. Jurusan Kedokteran memang bukan hal yang bisa dianggap remeh, karna sehari saja aku melewatkan mata kuliah aku akan tertinggal sangat banyak nantinya. Aku harus menjadi dokter yang hebat dan membanggakan orangtuaku. Aku memutuskan untuk tinggal dan belajar di sini jauh dari orang tua. Sebagai anak tunggal yang sudah tak mempunyai ibu dan tinggal bersama keluarga baru ayah adalah hal yang tak nyaman . Inilah alasanku ada di sini skarang, dan juga karna alasan lainnya.
               
Sebuah pesan kembali masuk, aku dengan sigap membukanya berharap lelaki itu yang mengirimkan pesan.

“ Yoon hi-ah, apa kau masih ingat janji kita mingg lalu? Apa kau masih bisa meluangkan waktumu?”

“ Tentu saja eomma, hubungi aku jika anda sudah sampai di Gangnam nanti.”

  Baiklah, Yoon hi-ah apa demamu sudah membaik sekarang?”

“ Aku sembuh dengan cepat berkat obat herbal yang eomma kirimkan. Terimakasih.”

“ Jaga kondisimu jangan terlalu lelah.”

“ Ne eomma”.

                Sebenarnya aku hampir saja lupa dengan janji itu karna terlalu sibuk dengan tugas kuliah yang membuatku sampai demam. Sepertinya aku harus memasang alarm di ponselku agar tak melupakannya. Bertemu dengannya sama dengan menentukan hidup dan mati.

  Tapi kenapa bocah tengik itu belum juga mengirim pesan? Bahkan setelah ku kirimkan banyak hadiah padanya? AAARRGGHH BOCAH SIALAN!” umpatku kesal”.

Jungkook Pov.
                Setelaah selesai dengan Fansign di Gangnam hari ini, aku kembali ke dorm setelah makan malam. Hari ini terasa menyenangkan berkat kedatangan Yoon hi noona. Meski aku belum sempat menemuinya lagi belakangan ini karna sesuatu hal dan kesibukan yang begitu padat, tapi rasanya menyenangkan bertemu orang-orang yang aku kenal sebelumnya.

“ Kenapa dia belum mengirim pesan?”. Ucapku sambil memandangi layar ponsel berharap sebuah pesan dari Yoon Hi noona.

                Selang beberapa saat, ponselku mulai berdering tanda pesan masuk. Aku membukanya terburu-buru, tapi ternyata itu pesan dari eomma. Aku sedikit kecewa karna bukan Yoon hi noona yang mengirimku pesan. Tak seperti biasanya, belakangan ini aku menantikan pesannya. Meski aku dengan sengaja membalasnya beberapa hari kemudian, tapi sebenarnya aku menantikan setiap kata yang ia kirimkan. Padahal aku bukanlah tipe orang yang selalu memeriksa setiap pesan yang masuk, karna selama ini banyak sekali pesan sampah di yang dikirim dari banyak orang. Bahkan sebelumnya akupun menganggap pesan darinya bukanlah sesuatu yang penting. Tapi, aku mulai memeriksa pesannya belakangan ini, itu mulai terjadi beberapa minggu yang lalu setelah aku menyadari dan memperhatikan foto yang ia uploud. Bentuk anting yang ia pakai sama dengan liontin yang tergantung di rantai kalung yang ku pegang saat ini.
Jungkook Pov. End

“ Eomma!!!!!”. Aku memanggil dan melambaikan tangan pada wanita paruh baya itu dari kejauhan.

“ Eoh, kau disitu rupanya.”

“ Mianhae eomma, apa kau menunggu lama? Tadi aku ada sedikit urusan di kampus.”

“ Tidak, jangan terlalu khawatir. Tak akan ada yang mau menculik wanita tua ini.”

“ Aaahh, eomma itulah yang paling aku khawatirkan. Karna anda masih sangat cantik di usia saat ini. Makannya aku buru-buru, takut ada yang membawamu pergi.”

“ Hahaha… kau ini memang paling pintar memuji.” Ucapnya sambil mengelus pipiku.

“ Kalau kau sampai hilang karna aku. Anakmu pasti mamarahiku habis-haisan nanti.”

“ kalau dia memarahimau, aku akan balik memarahinya.”

“ Hahaha... Eomma, apa yang ingin kau lakukan dulu hari ini? Belanja atau jalan-jalan dulu?”

“ Sebaiknya kita makan dulu, kau pasti belu makan kan?”

” Baiklah.”

                Wanita itu tidak mungkin ibu kandungku, karna ia sudah tak ada lagi di dunia ini. Dia juga bukan ibu tiriku, karna aku tak terlalu akrab dengannya. Wanita itu adalah ibu dari lelaki yang aku cintai. Jika hal ini terjadi secara kebetulan dan alami, itu semua hanya akan terjadi dalam sebuah drama televisi. Karna pada kenyataannya, untuk mendekati ibunya Jungkook aku telah melakukan banyak trik. Bahkan ketika Jungkook sudah tak tinggal bersama ibunya, aku masih berkunjung ke tempatnya. Ketika aku berlibur dan pulang ke rumah, tempat yang aku kunjungi sebelum pulang adalah rumah Jungkook. Mungkin ini terlihat sedikit picik, tapi bukankah cinta itu harus kau perjuangkan bagaimanapu caranya jika kau menginginkannya. Setidaknya perasaan sayangku pada wanita itu bukanlah sebuah trik, karna aku memang membutuhkan sosok seorang ibu.

                Tugasku menemani ibu Jungkook berbelanja sudah selesai. Aku merebahkan tubuhku di kasur memandang langit-langit  apartemenku dan teringat sesuatu. Trik selanjutnya, aku mengganti foto profil kakaotalk-ku dengan fotoku bersama ibu Jungkook yang aku ambil saat bersamanya tadi.

“ Hari yang menyenangkan, bertemu denganmu mengobati sedikit kerinduanku pada ibuku di Surga.”

                Sekarang tinggal menunggu reaksinya, apa dia akan mengirimiku pesan kali ini atau tetap mengacuhkanku. Aku menunggu beberapa jam, tapi masih belum ada respon darinya, pesan yang masuk malah dari beberapa temanku yang penasaran tentang siapa wanita yang bersamaku dan dari ibunya Jungkook yang mengucapkan terimakasih. Tapi pesan darinya belum juga ku dapatkan.

Jungkook Pov.
“ Eomma? Kenapa dia bersama eommaku?”

                Aku langsung meluncurkan protes pada eomma karna tak memberitahuku kalau ia datang ke Seoul tanpa menemuiku. Tapi yang ada aku malah balik dimarahi olehnya, ia bilang kalau akulah yang tak punya waktu untuknya makannya meminta Yoon hi noona menemani. Itu benar, aku memang tak punya banyak waktu luang untuk bertemu keluargaku. Kepopuleran terkadang membutuhkan sedikit pengorbanan, dan untunglah eomma mengerti dengan hal itu.

“ Apa yang harus aku lakukan kali ini? Kenapa banyak sekali keraguan hanya untk mengirimkannya pesan? Apa aku benar-benar menyukainya?”

                Aku mulai mengetik beberapa kalimat yang akan ku kirimkan padanya. Setidaknya aku harus berterimakasih sudah menjaga Eomma. Aku mencoba mengetik banyak pesan yang ku hapus dan ku ulang lagi beberapa kali sampai akhirnya aku malah tak jadi mengirimkan pesan padanya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku dan inilah alasanku enggan bertemu dengannya. Aku masih berpikir dia membenciku.

Flashback
2 Years Ago

“ Noona, aku akan pergi ke Seoul besok.”

“ Mwo? Apa itu karna Na Yeong?”

“ Bukan, aku memang sudah merencanakan ini sejak lama. Ini bukan karna aku putus dengannya.”

“ Benarkah? Aktingmu buruk Kook-ah. Aku tahu kau pergi karna wanita itu juga kan?”

“ Sungguh, bukan begitu.” Ujarku sambil menundukan kepala.

“ Coba pandang aku dan katakana kau pergi bukan karna dia.” Ujarnya sambil memegang kedua bahuku.

Aku mengangkat kepalaku mencoba mengatakan tidak, tapi aku menundukan lagi kepalaku karna tak sanggup mengatakan yang sebenarnya kalau aku memang kecewa pada Na Yeong dan ingin menjauh darinya.
“ Sudah ku bilang jangan coba-coba membohongiku. Kook-ah, apa kau harus sampai sejauh ini? Kau! Apa dipikiranmu hanya ada wanita itu? Apa orang disekitarmu sudah tak penting lagi? Jawab aku!”

“ Entahlah.”

“ YAA! APA KAU SANGAT MENCINTAI WANITA SIALAN ITU SAMPAI KAU BEGITU FRUSTASI BEGINI!!!”

                Ini pertama kalinya aku melihat Yoon Hi noona begitu marah, melihatnya begitu kecewa dan terluka sepertinya aku memahami sesuatu.

“ Noona, kenapa kau begitu marah? Apa kau menyukaiku?”

Aku melihatnya, aku melihat ekspresinya berubah menjadi terkejut dengan apa yang aku katakana. Dia seperti memikirkan sesuatu.

“ Aku masih cukup waras. Mana mungkin aku menyukai pacar temanku sendiri.”

                Dan ketika aku memulai debutku, Na Yeong  mulai mengubungiku lagi. Hal yang tak terduga terjadi beberapa hari kemudian, fotoku bersama Na Yeong tersebar di media social. Meski wajahku tak terlihat jelas disana, orang-orang dengan mudah mengenaliku dan itu membuat keributan besar di tengah kepopuleran grup ku. Dan yang membuatku terkejut adalah aku tahu dengan pasti siapa yang melakukan ini. Yoon Hi noona, aku tahu dia yang melakukan ini. Karna saat itu aku meminjam ponselnya untuk berfoto dengan Na Yeong. Ini membuatku  berpikir kalau dia membenciku.
Flashback End
               
Sampai saat ini, aku masih tak berani menanyakan padanya secara langsung apa tujuan dari itu semua. Apa harus sejauh itu ia melakukannya. Tapi  liontin ini membuatku penasaran tentang sesuatu yang sangat ingin aku tanyakan.
Jungkook Pov. End
               
Sudah 2 minggu lamanya, Jungkook tak lagi membalas pesanku. Sepertinya dia berbohong kalau ia senang melihatku saat fansign.

“ Kook-ah, apa ponselmu hilang? Kenapa tak membalas pesanku?”

                Entah berapa banyak pesan yang aku kirimkan hari ini padanya. Dan hasilnya tetap tak ada jawaban sama sekali. Aku mulai membuka jadwal kegiatan grupnya hari ini, mungkin dia memang sedang sibuk hingga tak sempat membalasnya.

  Apa-apaan ini? Mereka bahkan tak mempunyai jadwal sampai besok dan dia masih mengabaikan pesanku? Dia bahkan mengirimkan Tweet beberapa menit yang lalu di akun grupnya, itu artinya ponselnya tidak hilang. Dia benar-benar mengabaikanku rupanya.”

                Aku melangkah keluar kelasku dengan tak bersemangat, aku hanya memikirkan lelaki itu. Aku bahkan mencoba segalanya agar dia tak pergi terlalu jauh dariku. 3 tahun yang melelahkan, kuhabiskan waktuku untuk mencintainya dan mengabaikan pria yang mencoba mendekatiku. Dengan kemungkinan terburuk bahwa dia hanya menganggapku teman biasa. Aku mulai mengingat-ngingat lagi masa-masa saat paling menyakitkan bagiku.

Flashback

“ Noona! Aku sudah berpacaran dengan Na Yeong noona!” Teriak Jungkook dari kejauhan berlari menghampiriku.

                Rasanya seperti petir menyambar tepat di Jantungku. Aku tak pernah menyadari sesuatu terjadi di belakangku. Gadis sialan itu menusukku dari belakang, bahkan dia tahu bahwa aku menyukai Jungkook. Aku ingin menangis, tapi tak bisa ku lakukan saat ini di hadapannya. Jungkook bercerita dengan bahagia dan wajah tampannya yang manis itu benar-benar terlihat sangat senang. Tawanya saat ini bagaikan pedang yang menusuk-nusuk tubuhku tanpa henti. Setiap kata yang iya ucapkan bagaikan tamparan keras di mukaku.

“ Noona, kenapa kau diam saja? Kau sakit?”

“ Iya, aku sedang sakit. Maaf Kook-ah, aku harus pulang sekarang. Kepalaku benar-benar pusing.”

“ Apa mau ku antar Noona?”

“ Jangan, aku akan pulang sendiri saja.”

“ Apa kau yakin?”

“ Ne, Kook-ah aku harus pulang.”

                Dengan segera aku berbalik memunggunginya dan pergi menjauh. Dia tak tahu bahwa aku sedang menangis sekarang, menangis dengan perasaan yang hancur. Hal ini membuatku sakit selama satu minggu, sejak saat itu aku tak pernah lagi bertegur sapa dengan Na Yeong. Meski aku masih berhubungan baik dengan Jungkook, tapi tidak dengan Na Yeong. Aku tahu dia bukan wanita yang baik untuk Jungkook, tapi aku tak berusaha mengatakan itu pada Jungkook. Aku tak mau membuat jarak dengannya karna gadis sialan itu.

                Satu tahun setelah mereka berpacaran, akhirnya tiba waktunya Jungkook mengetahui sifat asli Na Yeong yang sebenarnya. Aku sudah menduga hal ini pasti terjadi, dengan pergaulan Na Yeong dan perbedaan umur mereka. Aku tahu persis kelakuan Na Yeong di sekolah yang tak ia perlihatkan pada Jungkook, terakir kali yang ku lihat Na Yeong sedang berciuman dengan lelaki yang ada di kelasnya saat pelajaran olahraga. Lelaki itu bahkan meraba-raba dan menyelusup ke bagian celana dalam Na Yeong. Aku ingin sekali Jungkook melihat kejadian ini dengan mata kepalanya sendiri. Itu terkabul, dan akulah yang merencanakan itu. Aku sudah tak tahan lagi melihat Na Yeong mempermainkan lelaki yang aku cintai.

                Aku hanya ingin membuat Na Yeong menjauh, tapi tak kusangka yang aku lakukan malah membuat Jungkook pergi sangat jauh. Tapi setidaknya aku masih berteman dan berkomunikasi dengan baik dengannya. Hingga akhirnya setelah lulus ku putuskan untuk pergi kuliah di Seoul, menyusul priaku.

                Sesekali aku bertemu dengan Jungkook dan mengobrol. Melihat ia bertumbuh dan semakin tampan, membuat jantungku berdebar-debar. Dan sampai saat ini aku masih dengan bodohnya bersembunyi dalam sosok seorang teman.
Flashback End

“ Yoon hi-ah, sedang apa kau sendirian di sini?” tanya seorang temanku.

“ Sedang melamun.”

“ Dari pada kau sendirian melamun, sebaiknya kau ikut denganku ke klub nanti malam.”

“ Baiklah.” Jawabku tanpa menolak sedikitpun.

“ Yaa!! Akhir-akhir ini kau sedikit aneh, biasanya kau akan menolak ajakanku.”

“ Aku sedang butuh hiburan.”

“ Baiklah, aku tunggu d klub jam 8 oke!”

                Aku pergi ke klub dengan menggunakan gaun hitam pendek blink-blink yang mengekspose seluruh bahuku dengan memperlihatkan setiap lekuk tubuhku dan membiarkan rambut panjang lurusku tergerai begitu saja. Ini pertama kalinya aku mengenakan pakaian seminim ini, dan ini pertamakalinya juga aku pergi ke tempat semacam ini.

                Trik berikutnya, aku mengganti foto profilku yang sedang berada di dalam klub dan juga statusku. Tujuanku sama, aku berharap Jungkook membacanya dan meresponnya. Setidaknya dia tahu ini pertama kalinya aku pergi ke klub. Apa dia akan tetap mengabaikannku kali ini?

“ Sepertinya aku membutukan hiburan, karna seseorang membuatku tertekan.”

 Ini sudah berjam-jam, dan dia tetap tak merespon? Sialan!”. Aku menenggak minumanku lagi dengan frustasi.

“ Cih, sia-sia sudah apa yang aku lakukan selama ini. Sepertinya dia memang berniat menghilang.” Aku kembali meraih botol minumanku yang ternyata kosong.

“ Ajeossi, berikan aku satu botol lagi.”

“ Agassi, sepertinya kau sudah terlalu banyak minum. Ini sudah botol ke 5, sebaiknya anda pulang. Apa anda ingin saya menghubungi seseorang untuk menjemputmu?”

“ Berikan saja padaku botolnya. Kau lihat ini Ajeossi, dia bahkan tak menghawatirkan aku. Lalu untuk apa kau ikut-ikutan mengahawatirkan aku juga?” ucapku sambil menunjuk-nunjuk layar ponsel dan terus menangis.

“ Sepertinya kau benar-benar sudah mabuk Agassi.”

                Seperti ada kilauan cahaya mengusik kenyamananku dan ketika aku membuka mata, aku terkejut karna aku sudah ada di atas ranjang. Dengan panik aku melihat seisi ruangan menerka dimana aku sekarang, syukurlah ternyata ini apartemenku sendiri. Pakaianku masih lengkap, beruntung aku masih selamat dari pria hidung belang.

“ Tapi, siapa yang mengantarku pulang? Temanku bahkan tak tahu dimana aku tinggal, lalu siapa?”

Aku mengambil ponselku, berniat bertanya pada temanku apakah dia yang mengantarkanku pulang. Tapi saat aku membuka ponselku, sebuah pesan masuk  dari Jungkook sudah ada di sana.

“ Jika kau sudah sadar, hubungi aku.”

“ Jungkook? Tidak mungkin dia yang mengantarku pulang. Aisshh.. kepalaku pusing sekali.”

“ Tunggu sebentar! Apa ini? Aaaaaaaaa…. Aku pasti sudah gila! Eothokae!!!!”

Aku memeriksa riwayat percakapanku dengan Jungkook di kakaotalk.

“ Hei Brengsek! Apa kau mau mati!”

“ Kau ingin menjauh dariku?”

“ Napeun neo!”

“ Kau bajingan!”

“ Aku mencintaimu”

“Aku mencintaimu bocah sialan.”

“ Tuan sepertinya pacar anda mabuk berat, bisakah anda membawanya pulang? Datanglah ke Klub The Star di Gangnam.”

“ Baiklah, aku akan segera kesana. Tolong jaga dia sebentar.”

Jungkook Pov.

“ Apa yang dipikirkan gadis ini? Apa yang dia lakukan di tempat seperti itu?”

                Bagaimana bisa dia pergi ke tempat yang berbahaya dengan penampilan seperti itu. Bukankah itu pertama kalinya dia pergi ke Klub malam. Aku mulai cemas sekarang, niatku untuk tak terlalu mencampuri urusan gadis itu sepertinya gagal.

“ Hyung, bisakah kita mempercepat latihannya?”. Tanyaku pada manager.

“ Memangnya kenapa?”

“ Aku ada sedikit urusan mendadak.”

“ Kau mau pergi kemana malam-malam begini? Jangan membuat masalah! Sebaiknya cepat lanjutkan latihanmu!”

                Aku ingin latihan ini cepat selesai, bahkan aku tak punya semangat untuk berlatih kali ini. Aku
terus saja memikirkan Yoon Hi noona. Aku sangat takut sesuatu terjadi padanya. Seusai latihan, aku langsung mencari ponselku dan benar saja dugaanku. Seorang pelayan mengirimkan pesan padaku untuk meminta menjemput Yoon Hi noona. Yang paling membuatku kaget adalah teks sebelumnya, dia mencintaiku. Itulah yang tertulis disana, apa itu hanya karna pengaruh alkohol? Bukankah dulu dia bilang tidak menyukaiku? Lalu apa maksudnya ini?

                Aku pergi tergesa-gesa menuju Klub malam dengan pakaian serba hitam, mencoba menyamarkan keberadaanku dari pandangan orang lain. Sesampainya di Klub, aku melihat Yoon Hi noona sedang tertidur di meja bar. Aku membawanya pulang ke apartmen miliknya yang tak jauh dari kawasan itu, karna aku pernah sekali berkunjung jadi aku tau dimana ia tinggal. Hanya saja sekarang masalahnya adalah kode kamar ini, saat kutanyakan kodenya dia malah menjawab tak karuan.

” Jadi seperti ini kalau dia sedang mabuk? “

                Aku mencoba memasukan kode dengan angka ulang tahunnya tapi gagal, atau dengan kode acak lainnya tp juga gagal.

“ Ahh.. noona, berapa sebenarnya kode apartemen mu ini? Cepat katakana, aku sedah lelah menggendongmu.”

“ Apa…” dia menjawab dengan lemas dan masih mabuk.

“ Kodenya noona, kode apartemen.”

“ Kau kan tinggal memencetnya disitu.”

“ Aku tahu noona, tapi berapa nomernya?” ucapku agak kesal.

“ Masa kau tidak ingat ulangtahunmu sendiri?”

“ Apa?” Tanyaku ragu.

                Dan benar saja pintunya terbuka, bahkan dia menggunakan tanggal ulang tahunku sebagai kode. Apa dia serius dengan ucapannya tadi? Aku lalu mendudukannya di sofa berwana putih, sangat kontras dengan gaun hitamnya. Dia begitu berantakan dan terlihat sedih, apakah aku sumber dari kesedihannya.

“ Noona, bangunlah! Sadarkan dirimu.”

“ Hei kau! Pria brengsek! Kemarilah!”  Ujarnya tak karuan.

“ Apa yang kau bicarakan noona? Kau masih mabuk rupanya, sebaiknya kau pindak ke tempat tidur.”

                Saat aku berusaha untuk memindahkannya, dia malah menarik kerah bajuku membuat jarak yang cukup dekat. Dia memandangku dengan tatapan sayu yang sangat lemah, melihatnya sedekat ini membuat jantungku berdebar hebat.

“ Noona, kau harus pind…”

Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, bibirnya sudah mendarat di bibirku. Memberikan sebuah kecupan yang membuat wajahku memerah. Aku refleks berdiri menjauh dari jarak sebelumnya karna kaget dengan apa yang dia lakukan. Dia pun kembali bersandar dengan lemah di sofa dengan rambut panjangnya yang tergerai tak karuan, membuatnya terlihat seksi.

“ Yaa! Jeon Jungkook! Kau  tak boleh berpikir yang tidak-tidak” ucapku.

                Tapi aku malah kembali menatap gadis di hadapanku ini. Menatapnya lebih serius, memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Semakin aku memperhatikannya, langkah kakiku semakin mendekat menuju ke arahnya. Aku pun duduk di sampingnya, dengan perlahan menyibak helaian rambut yang menutupi wajah cantiknya. Ia bergeliat seakan menyadari sentukanku dan membuka matanya dengan setengah tak sadar. Mataku tak bisa melepaskan pandangan dari gadis ini bahkan kini aku memperhatikan bibirnya yang merah merona dan menciumnya dengan lembut, aku sudah benar-benar kehilangan akal sehat sekarang.

Ciumanku kini berubah menjadi ciuman yang menuntut, nafsu birahiku mulai meninggi ketika gadis ini mengelurkan desahan karna aku mengigit bibirnya agar membuka mulutnya supaya lidahku bisa menerobos masuk. Tanganku dengan sendirinya bergerak menuju gundukan milih Yoon Hi noona, meremasnya dengan gemas. Ciumanku beralih menuju leher memberikan beberapa tanda disana, lalu lidahku turun menuju belahan payudaranya bersiap menjilat setiap incinya. Tapi kegiatanku terhenti karna tubuh Yoon Hi noona lunglai dan tergeletak di sofa.

“ Aishh… sial, kenapa kau malah pingsan di saat seperti ini noona? Huft..Baiklah, aku akan bersabar untuk malam ini.”

                Aku memindahkannya ke tempat tidur, merebahkannya dan melepaska sepatunya. Entah setan apa yang merasukiku hingga mataku terus saja memandangi indahnya tubuh gadis di hadapanku.

“ Aahh.. gadis ini benar-benar!” Ujarku kesal sambil menutupi seluruh tubuh gadis itu dengan selimut hingga kepala.

“ Apa dia tidak punya baju lain? Kenapa semuanya begitu jelas terlihat.
Jungkook Pov. End

2 komentar: