Genre : Sad Romance, NC 21
Cast : - Jeon Jungkook
- Yoon Hi
Author : Tha9097
* Hallo, author mau ngasih ff nih, meskipun nc tp untuk part ini masih belum ada unsur NC nya, jadi masih aman di baca. selamat membaca ^^ *
Sudah
hampir setahun aku tak berbicara dengannya secara langsung. Yang bisa ku lakukan
hanyalah menyapanya lewat akun SNS yang terselip di kolom ribuan komentar
lainnya. Hanya saja bedanya aku dengan ribuan orang itu adalah, aku mengenalnya
dan masih bisa mengobrol lewat pesan pribadi akun SNS lainnya.
Lelaki
itu, yang kini semakin terasa jauh untuk ku gapai. Dengan bodohnya aku masih
saja berharap ia menyadari perasaan yang aku simpan untuknya selama 3 tahun
ini. Entah berapa ribu pesan dan status yang
ku kutujukan padanya , meski tak secara terang-terangan ku katakan harusnya dia
mengerti apa maksudku. Apa karena dia terlalu muda dan polos bahkan hal seperti
itu tak ia sadari. Atau dia terlalu sibuk sampai tak meliriknya sama sekali.
Masih lekat
di ingatanku 2 tahun silam sebelum ia pergi dan mengejar cita-cita setelah
bangkit dari keterpurukannya karena cinta. Itu pula yang mempersempit
kesempatannku dan andai saja wanita itu tak datang merusak segalanya, tidak
akan sesulit ini bagiku untuk mengungkapkan perasaanku pada lelaki itu.
“ noona, apa kau
sedang sibuk? Maaf aku baru bias membalasnya.”
Sebuah pesan yang sudah beberapa hari ini aku tunggu dari
lelaki yang ku sukai ini akhirnya membalas pesanku juga.
“ tidak, aku baru saja
menyelesaikan tugas kuliahku. Apa kau sudah makan?”
Entah itu terlihat jelas atau tidak
baginya, tapi tidakkah sedikit saja ia menyadari perhatiannku ini. Atau mungkin
dia terbiasa dengan pertanyaan yang selalu aku tanyakan setiap kali berkirim
pesan dengannya.
“ Tentu saja sudah,
aku tak akan melewatkan begitu saja makan malamku kekeke~ “
Dia benar-benar cute bahkan hanya
dengan membaca tulisannya saja semakin membuatku gila karna merindukannya.
“ Baguslah kalau kau
sudah makan. Kau harus menjaga kesehatanmu, arra!”
“ Baiklah aku
mengerti. Noona, apa kau masih sakit? Aku membaca status kakaotalk-mu tadi.”
“ Aku baik-baik saja
sekarang.”
“ Sepertinya kaulah
yang harus menjaga kesehatanmu noona. Tinggal di Seoul sendirian tidaklah
mudah.”
“ Iya iya aku mengerti.”
“ Noona, aku harus
kembali berlatih sekarang. Manager sedang menatapku sinis karna terlalu lama
memegang ponselku.”
“ Baiklah, hubungi aku
jika kau ada waktu luang.”
Percakapan yang singkat tapi
begitu berarti bagiku, meski ia tak lagi membalas pesanku atau menghubungiku
lagi selama beberapa hari. Dan sebagai gantinya, aku akan sibuk seharian denga
ponsel atau laptop ku mencari informasi seputar kegiatannya hari ini. Atau
mengecek update dari akun twitter milik grupnya. Kadang aku bertanya pada
diriku sendiri, apa otaku sudah tidak waras lagi? Kenapa aku terlihat seperti
sasaeng fans?
“ Apa? Fansign?
Gangnam? Besok?”.
Aku membelalakan mataku karna
terlalu senang setelah membaca postingan di salah satu fanpage, karna tempatnya
dekat dengan kampusku. Itu adalah bonus karna besok aku hanya punya satu mata
kuliah di pagi hari dan sisanya waktuku sangat banyak. Aku mempersiapkan
segalanya dan mulai berbelanja ini dan itu.
…
Tiba saatnya giliranku, setelah beberapa jam menunggu
antrian panjang untuk hanya bertegur sapa dengan lelaki yang aku sukai setelah
setahun lamanya tak melihatnya secara langsung.
“ Yoon hi noona?”
“Annyeong”
“ Kenapa kau bias datang?”. Ucap Jungkook sambil mencoret
tandatangannya dengan masih memandangku tak percaya.
Aku memberikan
beberapa hadiah dan sebuah kertas note kecil padanya dengan tulisan yang sudah
aku siapkan karna aku tahu hal ini akan terjadi.
“ Kecilkan suaramu
bocah tengik! Apa kau ingin aku mati sepulang dari sini!!! Aku kesini karna kau
mengingkari janjimu untuk menemuiku!”
Dia membalikan kertas note lalu
menuliskan sesuatu disana dan memperlihatkannya padaku sebentar setelah itu ia memasukannya ke saku
bajunya. Disana tertulis “ Maafkan aku,
tapi aku senang kau datang.”
…
Sepulang dari fansign dengan
bahagia, aku kembali berkutat dengan tugas kuliahku yang tanpa henti. Aku
memang haya punya waktu luang yang benar-benar luang di hari sabtu dan minggu
saja. Jurusan Kedokteran memang bukan hal yang bisa dianggap remeh, karna
sehari saja aku melewatkan mata kuliah aku akan tertinggal sangat banyak
nantinya. Aku harus menjadi dokter yang hebat dan membanggakan orangtuaku. Aku
memutuskan untuk tinggal dan belajar di sini jauh dari orang tua. Sebagai anak
tunggal yang sudah tak mempunyai ibu dan tinggal bersama keluarga baru ayah
adalah hal yang tak nyaman . Inilah alasanku ada di sini skarang, dan juga
karna alasan lainnya.
Sebuah pesan kembali masuk, aku
dengan sigap membukanya berharap lelaki itu yang mengirimkan pesan.
“ Yoon hi-ah, apa kau
masih ingat janji kita mingg lalu? Apa kau masih bisa meluangkan waktumu?”
“ Tentu saja eomma,
hubungi aku jika anda sudah sampai di Gangnam nanti.”
“ Baiklah, Yoon hi-ah apa demamu sudah membaik
sekarang?”
“ Aku sembuh dengan
cepat berkat obat herbal yang eomma kirimkan. Terimakasih.”
“ Jaga kondisimu
jangan terlalu lelah.”
“ Ne eomma”.
Sebenarnya
aku hampir saja lupa dengan janji itu karna terlalu sibuk dengan tugas kuliah
yang membuatku sampai demam. Sepertinya aku harus memasang alarm di ponselku
agar tak melupakannya. Bertemu dengannya sama dengan menentukan hidup dan mati.
“ Tapi kenapa bocah
tengik itu belum juga mengirim pesan? Bahkan setelah ku kirimkan banyak hadiah
padanya? AAARRGGHH BOCAH SIALAN!” umpatku kesal”.
…
Jungkook Pov.
Setelaah
selesai dengan Fansign di Gangnam hari ini, aku kembali ke dorm setelah makan
malam. Hari ini terasa menyenangkan berkat kedatangan Yoon hi noona. Meski aku
belum sempat menemuinya lagi belakangan ini karna sesuatu hal dan kesibukan
yang begitu padat, tapi rasanya menyenangkan bertemu orang-orang yang aku kenal
sebelumnya.
“ Kenapa dia belum mengirim pesan?”. Ucapku sambil
memandangi layar ponsel berharap sebuah pesan dari Yoon Hi noona.
Selang
beberapa saat, ponselku mulai berdering tanda pesan masuk. Aku membukanya
terburu-buru, tapi ternyata itu pesan dari eomma. Aku sedikit kecewa karna
bukan Yoon hi noona yang mengirimku pesan. Tak seperti biasanya, belakangan ini
aku menantikan pesannya. Meski aku dengan sengaja membalasnya beberapa hari
kemudian, tapi sebenarnya aku menantikan setiap kata yang ia kirimkan. Padahal
aku bukanlah tipe orang yang selalu memeriksa setiap pesan yang masuk, karna
selama ini banyak sekali pesan sampah di yang dikirim dari banyak orang. Bahkan
sebelumnya akupun menganggap pesan darinya bukanlah sesuatu yang penting. Tapi,
aku mulai memeriksa pesannya belakangan ini, itu mulai terjadi beberapa minggu
yang lalu setelah aku menyadari dan memperhatikan foto yang ia uploud. Bentuk
anting yang ia pakai sama dengan liontin yang tergantung di rantai kalung yang
ku pegang saat ini.
Jungkook Pov. End
…
“ Eomma!!!!!”. Aku memanggil dan melambaikan tangan pada
wanita paruh baya itu dari kejauhan.
“ Eoh, kau disitu rupanya.”
“ Mianhae eomma, apa kau menunggu lama? Tadi aku ada sedikit
urusan di kampus.”
“ Tidak, jangan terlalu khawatir. Tak akan ada yang mau
menculik wanita tua ini.”
“ Aaahh, eomma itulah yang paling aku khawatirkan. Karna
anda masih sangat cantik di usia saat ini. Makannya aku buru-buru, takut ada
yang membawamu pergi.”
“ Hahaha… kau ini memang paling pintar memuji.” Ucapnya
sambil mengelus pipiku.
“ Kalau kau sampai hilang karna aku. Anakmu pasti mamarahiku
habis-haisan nanti.”
“ kalau dia memarahimau, aku akan
balik memarahinya.”
“ Hahaha... Eomma, apa yang ingin kau lakukan dulu hari ini?
Belanja atau jalan-jalan dulu?”
“ Sebaiknya kita makan dulu, kau pasti belu makan kan?”
” Baiklah.”
Wanita
itu tidak mungkin ibu kandungku, karna ia sudah tak ada lagi di dunia ini. Dia
juga bukan ibu tiriku, karna aku tak terlalu akrab dengannya. Wanita itu adalah
ibu dari lelaki yang aku cintai. Jika hal ini terjadi secara kebetulan dan
alami, itu semua hanya akan terjadi dalam sebuah drama televisi. Karna pada
kenyataannya, untuk mendekati ibunya Jungkook aku telah melakukan banyak trik.
Bahkan ketika Jungkook sudah tak tinggal bersama ibunya, aku masih berkunjung
ke tempatnya. Ketika aku berlibur dan pulang ke rumah, tempat yang aku kunjungi
sebelum pulang adalah rumah Jungkook. Mungkin ini terlihat sedikit picik, tapi
bukankah cinta itu harus kau perjuangkan bagaimanapu caranya jika kau
menginginkannya. Setidaknya perasaan sayangku pada wanita itu bukanlah sebuah
trik, karna aku memang membutuhkan sosok seorang ibu.
…
Tugasku
menemani ibu Jungkook berbelanja sudah selesai. Aku merebahkan tubuhku di kasur
memandang langit-langit apartemenku dan
teringat sesuatu. Trik selanjutnya, aku mengganti foto profil kakaotalk-ku
dengan fotoku bersama ibu Jungkook yang aku ambil saat bersamanya tadi.
“ Hari yang menyenangkan, bertemu denganmu mengobati sedikit
kerinduanku pada ibuku di Surga.”
Sekarang
tinggal menunggu reaksinya, apa dia akan mengirimiku pesan kali ini atau tetap
mengacuhkanku. Aku menunggu beberapa jam, tapi masih belum ada respon darinya,
pesan yang masuk malah dari beberapa temanku yang penasaran tentang siapa
wanita yang bersamaku dan dari ibunya Jungkook yang mengucapkan terimakasih.
Tapi pesan darinya belum juga ku dapatkan.
…
Jungkook Pov.
“ Eomma? Kenapa dia bersama eommaku?”
Aku
langsung meluncurkan protes pada eomma karna tak memberitahuku kalau ia datang
ke Seoul tanpa menemuiku. Tapi yang ada aku malah balik dimarahi olehnya, ia bilang
kalau akulah yang tak punya waktu untuknya makannya meminta Yoon hi noona
menemani. Itu benar, aku memang tak punya banyak waktu luang untuk bertemu
keluargaku. Kepopuleran terkadang membutuhkan sedikit pengorbanan, dan
untunglah eomma mengerti dengan hal itu.
“ Apa yang harus aku lakukan kali ini? Kenapa banyak sekali
keraguan hanya untk mengirimkannya pesan? Apa aku benar-benar menyukainya?”
Aku
mulai mengetik beberapa kalimat yang akan ku kirimkan padanya. Setidaknya aku
harus berterimakasih sudah menjaga Eomma. Aku mencoba mengetik banyak pesan
yang ku hapus dan ku ulang lagi beberapa kali sampai akhirnya aku malah tak
jadi mengirimkan pesan padanya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku dan
inilah alasanku enggan bertemu dengannya. Aku masih berpikir dia membenciku.
Flashback
2 Years Ago
“ Noona, aku akan pergi ke Seoul besok.”
“ Mwo? Apa itu karna Na Yeong?”
“ Bukan, aku memang sudah merencanakan ini sejak lama. Ini
bukan karna aku putus dengannya.”
“ Benarkah? Aktingmu buruk Kook-ah. Aku tahu kau pergi karna
wanita itu juga kan?”
“ Sungguh, bukan begitu.” Ujarku sambil menundukan kepala.
“ Coba pandang aku dan katakana kau pergi bukan karna dia.”
Ujarnya sambil memegang kedua bahuku.
Aku mengangkat kepalaku mencoba
mengatakan tidak, tapi aku menundukan lagi kepalaku karna tak sanggup
mengatakan yang sebenarnya kalau aku memang kecewa pada Na Yeong dan ingin
menjauh darinya.
“ Sudah ku bilang jangan coba-coba membohongiku. Kook-ah,
apa kau harus sampai sejauh ini? Kau! Apa dipikiranmu hanya ada wanita itu? Apa
orang disekitarmu sudah tak penting lagi? Jawab aku!”
“ Entahlah.”
“ YAA! APA KAU SANGAT MENCINTAI WANITA SIALAN ITU SAMPAI KAU
BEGITU FRUSTASI BEGINI!!!”
Ini
pertama kalinya aku melihat Yoon Hi noona begitu marah, melihatnya begitu
kecewa dan terluka sepertinya aku memahami sesuatu.
“ Noona, kenapa kau begitu marah? Apa kau menyukaiku?”
Aku melihatnya, aku melihat
ekspresinya berubah menjadi terkejut dengan apa yang aku katakana. Dia seperti
memikirkan sesuatu.
“ Aku masih cukup waras. Mana mungkin aku menyukai pacar
temanku sendiri.”
Dan
ketika aku memulai debutku, Na Yeong mulai mengubungiku lagi. Hal yang tak terduga
terjadi beberapa hari kemudian, fotoku bersama Na Yeong tersebar di media
social. Meski wajahku tak terlihat jelas disana, orang-orang dengan mudah
mengenaliku dan itu membuat keributan besar di tengah kepopuleran grup ku. Dan
yang membuatku terkejut adalah aku tahu dengan pasti siapa yang melakukan ini.
Yoon Hi noona, aku tahu dia yang melakukan ini. Karna saat itu aku meminjam
ponselnya untuk berfoto dengan Na Yeong. Ini membuatku berpikir kalau dia membenciku.
Flashback End
Sampai saat ini, aku masih tak
berani menanyakan padanya secara langsung apa tujuan dari itu semua. Apa harus
sejauh itu ia melakukannya. Tapi liontin
ini membuatku penasaran tentang sesuatu yang sangat ingin aku tanyakan.
Jungkook Pov. End
…
Sudah 2 minggu lamanya, Jungkook
tak lagi membalas pesanku. Sepertinya dia berbohong kalau ia senang melihatku
saat fansign.
“ Kook-ah, apa
ponselmu hilang? Kenapa tak membalas pesanku?”
Entah
berapa banyak pesan yang aku kirimkan hari ini padanya. Dan hasilnya tetap tak
ada jawaban sama sekali. Aku mulai membuka jadwal kegiatan grupnya hari ini,
mungkin dia memang sedang sibuk hingga tak sempat membalasnya.
“ Apa-apaan ini?
Mereka bahkan tak mempunyai jadwal sampai besok dan dia masih mengabaikan
pesanku? Dia bahkan mengirimkan Tweet beberapa menit yang lalu di akun grupnya,
itu artinya ponselnya tidak hilang. Dia benar-benar mengabaikanku rupanya.”
Aku
melangkah keluar kelasku dengan tak bersemangat, aku hanya memikirkan lelaki
itu. Aku bahkan mencoba segalanya agar dia tak pergi terlalu jauh dariku. 3
tahun yang melelahkan, kuhabiskan waktuku untuk mencintainya dan mengabaikan
pria yang mencoba mendekatiku. Dengan kemungkinan terburuk bahwa dia hanya
menganggapku teman biasa. Aku mulai mengingat-ngingat lagi masa-masa saat
paling menyakitkan bagiku.
Flashback
“ Noona! Aku sudah berpacaran dengan Na Yeong noona!” Teriak
Jungkook dari kejauhan berlari menghampiriku.
Rasanya
seperti petir menyambar tepat di Jantungku. Aku tak pernah menyadari sesuatu
terjadi di belakangku. Gadis sialan itu menusukku dari belakang, bahkan dia
tahu bahwa aku menyukai Jungkook. Aku ingin menangis, tapi tak bisa ku lakukan
saat ini di hadapannya. Jungkook bercerita dengan bahagia dan wajah tampannya
yang manis itu benar-benar terlihat sangat senang. Tawanya saat ini bagaikan
pedang yang menusuk-nusuk tubuhku tanpa henti. Setiap kata yang iya ucapkan
bagaikan tamparan keras di mukaku.
“ Noona, kenapa kau diam saja? Kau sakit?”
“ Iya, aku sedang sakit. Maaf Kook-ah, aku harus pulang
sekarang. Kepalaku benar-benar pusing.”
“ Apa mau ku antar Noona?”
“ Jangan, aku akan pulang sendiri saja.”
“ Apa kau yakin?”
“ Ne, Kook-ah aku harus pulang.”
Dengan
segera aku berbalik memunggunginya dan pergi menjauh. Dia tak tahu bahwa aku
sedang menangis sekarang, menangis dengan perasaan yang hancur. Hal ini
membuatku sakit selama satu minggu, sejak saat itu aku tak pernah lagi bertegur
sapa dengan Na Yeong. Meski aku masih berhubungan baik dengan Jungkook, tapi
tidak dengan Na Yeong. Aku tahu dia bukan wanita yang baik untuk Jungkook, tapi
aku tak berusaha mengatakan itu pada Jungkook. Aku tak mau membuat jarak
dengannya karna gadis sialan itu.
Satu
tahun setelah mereka berpacaran, akhirnya tiba waktunya Jungkook mengetahui
sifat asli Na Yeong yang sebenarnya. Aku sudah menduga hal ini pasti terjadi,
dengan pergaulan Na Yeong dan perbedaan umur mereka. Aku tahu persis kelakuan
Na Yeong di sekolah yang tak ia perlihatkan pada Jungkook, terakir kali yang ku
lihat Na Yeong sedang berciuman dengan lelaki yang ada di kelasnya saat
pelajaran olahraga. Lelaki itu bahkan meraba-raba dan menyelusup ke bagian
celana dalam Na Yeong. Aku ingin sekali Jungkook melihat kejadian ini dengan
mata kepalanya sendiri. Itu terkabul, dan akulah yang merencanakan itu. Aku
sudah tak tahan lagi melihat Na Yeong mempermainkan lelaki yang aku cintai.
Aku
hanya ingin membuat Na Yeong menjauh, tapi tak kusangka yang aku lakukan malah
membuat Jungkook pergi sangat jauh. Tapi setidaknya aku masih berteman dan
berkomunikasi dengan baik dengannya. Hingga akhirnya setelah lulus ku putuskan
untuk pergi kuliah di Seoul, menyusul priaku.
Sesekali
aku bertemu dengan Jungkook dan mengobrol. Melihat ia bertumbuh dan semakin
tampan, membuat jantungku berdebar-debar. Dan sampai saat ini aku masih dengan
bodohnya bersembunyi dalam sosok seorang teman.
Flashback End
“ Yoon hi-ah, sedang apa kau sendirian di sini?” tanya
seorang temanku.
“ Sedang melamun.”
“ Dari pada kau sendirian melamun, sebaiknya kau ikut denganku
ke klub nanti malam.”
“ Baiklah.” Jawabku tanpa menolak sedikitpun.
“ Yaa!! Akhir-akhir ini kau sedikit aneh, biasanya kau akan
menolak ajakanku.”
“ Aku sedang butuh hiburan.”
“ Baiklah, aku tunggu d klub jam 8 oke!”
…
Aku
pergi ke klub dengan menggunakan gaun hitam pendek blink-blink yang mengekspose
seluruh bahuku dengan memperlihatkan setiap lekuk tubuhku dan membiarkan rambut
panjang lurusku tergerai begitu saja. Ini pertama kalinya aku mengenakan
pakaian seminim ini, dan ini pertamakalinya juga aku pergi ke tempat semacam
ini.
Trik
berikutnya, aku mengganti foto profilku yang sedang berada di dalam klub dan
juga statusku. Tujuanku sama, aku berharap Jungkook membacanya dan meresponnya.
Setidaknya dia tahu ini pertama kalinya aku pergi ke klub. Apa dia akan tetap
mengabaikannku kali ini?
“ Sepertinya aku
membutukan hiburan, karna seseorang membuatku tertekan.”
“ Ini sudah berjam-jam, dan dia tetap tak
merespon? Sialan!”. Aku menenggak minumanku lagi dengan frustasi.
“ Cih, sia-sia sudah apa yang aku lakukan selama ini.
Sepertinya dia memang berniat menghilang.” Aku kembali meraih botol minumanku
yang ternyata kosong.
“ Ajeossi, berikan aku satu botol lagi.”
“ Agassi, sepertinya kau sudah terlalu banyak minum. Ini
sudah botol ke 5, sebaiknya anda pulang. Apa anda ingin saya menghubungi
seseorang untuk menjemputmu?”
“ Berikan saja padaku botolnya. Kau lihat ini Ajeossi, dia
bahkan tak menghawatirkan aku. Lalu untuk apa kau ikut-ikutan mengahawatirkan
aku juga?” ucapku sambil menunjuk-nunjuk layar ponsel dan terus menangis.
“ Sepertinya kau benar-benar sudah mabuk Agassi.”
…
Seperti
ada kilauan cahaya mengusik kenyamananku dan ketika aku membuka mata, aku
terkejut karna aku sudah ada di atas ranjang. Dengan panik aku melihat seisi
ruangan menerka dimana aku sekarang, syukurlah ternyata ini apartemenku
sendiri. Pakaianku masih lengkap, beruntung aku masih selamat dari pria hidung
belang.
“ Tapi, siapa yang mengantarku pulang? Temanku bahkan tak
tahu dimana aku tinggal, lalu siapa?”
Aku mengambil ponselku, berniat bertanya
pada temanku apakah dia yang mengantarkanku pulang. Tapi saat aku membuka
ponselku, sebuah pesan masuk dari
Jungkook sudah ada di sana.
“ Jika kau sudah
sadar, hubungi aku.”
“ Jungkook? Tidak mungkin dia yang mengantarku pulang.
Aisshh.. kepalaku pusing sekali.”
“ Tunggu sebentar! Apa ini? Aaaaaaaaa…. Aku pasti sudah
gila! Eothokae!!!!”
Aku memeriksa riwayat percakapanku dengan Jungkook di
kakaotalk.
“ Hei Brengsek! Apa
kau mau mati!”
“ Kau ingin menjauh
dariku?”
“ Napeun neo!”
“ Kau bajingan!”
“ Aku mencintaimu”
“Aku mencintaimu bocah
sialan.”
“ Tuan sepertinya
pacar anda mabuk berat, bisakah anda membawanya pulang? Datanglah ke Klub The
Star di Gangnam.”
“ Baiklah, aku akan
segera kesana. Tolong jaga dia sebentar.”
…
Jungkook Pov.
“ Apa yang dipikirkan gadis ini? Apa yang dia lakukan di
tempat seperti itu?”
Bagaimana
bisa dia pergi ke tempat yang berbahaya dengan penampilan seperti itu. Bukankah
itu pertama kalinya dia pergi ke Klub malam. Aku mulai cemas sekarang, niatku
untuk tak terlalu mencampuri urusan gadis itu sepertinya gagal.
“ Hyung, bisakah kita mempercepat latihannya?”. Tanyaku pada
manager.
“ Memangnya kenapa?”
“ Aku ada sedikit urusan mendadak.”
“ Kau mau pergi kemana malam-malam begini? Jangan membuat
masalah! Sebaiknya cepat lanjutkan latihanmu!”
Aku
ingin latihan ini cepat selesai, bahkan aku tak punya semangat untuk berlatih
kali ini. Aku
terus saja memikirkan Yoon Hi noona. Aku sangat takut
sesuatu terjadi padanya. Seusai latihan, aku langsung mencari ponselku dan
benar saja dugaanku. Seorang pelayan mengirimkan pesan padaku untuk meminta
menjemput Yoon Hi noona. Yang paling membuatku kaget adalah teks sebelumnya,
dia mencintaiku. Itulah yang tertulis disana, apa itu hanya karna pengaruh alkohol?
Bukankah dulu dia bilang tidak menyukaiku? Lalu apa maksudnya ini?
Aku
pergi tergesa-gesa menuju Klub malam dengan pakaian serba hitam, mencoba
menyamarkan keberadaanku dari pandangan orang lain. Sesampainya di Klub, aku
melihat Yoon Hi noona sedang tertidur di meja bar. Aku membawanya pulang ke
apartmen miliknya yang tak jauh dari kawasan itu, karna aku pernah sekali
berkunjung jadi aku tau dimana ia tinggal. Hanya saja sekarang masalahnya
adalah kode kamar ini, saat kutanyakan kodenya dia malah menjawab tak karuan.
” Jadi seperti ini kalau dia sedang mabuk? “
Aku
mencoba memasukan kode dengan angka ulang tahunnya tapi gagal, atau dengan kode
acak lainnya tp juga gagal.
“ Ahh.. noona, berapa sebenarnya kode apartemen mu ini?
Cepat katakana, aku sedah lelah menggendongmu.”
“ Apa…” dia menjawab dengan lemas dan masih mabuk.
“ Kodenya noona, kode apartemen.”
“ Kau kan tinggal memencetnya disitu.”
“ Aku tahu noona, tapi berapa nomernya?” ucapku agak kesal.
“ Masa kau tidak ingat ulangtahunmu sendiri?”
“ Apa?” Tanyaku ragu.
Dan
benar saja pintunya terbuka, bahkan dia menggunakan tanggal ulang tahunku
sebagai kode. Apa dia serius dengan ucapannya tadi? Aku lalu mendudukannya di
sofa berwana putih, sangat kontras dengan gaun hitamnya. Dia begitu berantakan
dan terlihat sedih, apakah aku sumber dari kesedihannya.
“ Noona, bangunlah! Sadarkan dirimu.”
“ Hei kau! Pria brengsek! Kemarilah!” Ujarnya tak karuan.
“ Apa yang kau bicarakan noona? Kau masih mabuk rupanya,
sebaiknya kau pindak ke tempat tidur.”
Saat
aku berusaha untuk memindahkannya, dia malah menarik kerah bajuku membuat jarak
yang cukup dekat. Dia memandangku dengan tatapan sayu yang sangat lemah,
melihatnya sedekat ini membuat jantungku berdebar hebat.
“ Noona, kau harus pind…”
Belum sempat aku menyelesaikan
perkataanku, bibirnya sudah mendarat di bibirku. Memberikan sebuah kecupan yang
membuat wajahku memerah. Aku refleks berdiri menjauh dari jarak sebelumnya
karna kaget dengan apa yang dia lakukan. Dia pun kembali bersandar dengan lemah
di sofa dengan rambut panjangnya yang tergerai tak karuan, membuatnya terlihat
seksi.
“ Yaa! Jeon Jungkook! Kau tak boleh berpikir yang tidak-tidak” ucapku.
Tapi
aku malah kembali menatap gadis di hadapanku ini. Menatapnya lebih serius,
memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Semakin aku
memperhatikannya, langkah kakiku semakin mendekat menuju ke arahnya. Aku pun
duduk di sampingnya, dengan perlahan menyibak helaian rambut yang menutupi
wajah cantiknya. Ia bergeliat seakan menyadari sentukanku dan membuka matanya
dengan setengah tak sadar. Mataku tak bisa melepaskan pandangan dari gadis ini
bahkan kini aku memperhatikan bibirnya yang merah merona dan menciumnya dengan
lembut, aku sudah benar-benar kehilangan akal sehat sekarang.
Ciumanku kini berubah menjadi
ciuman yang menuntut, nafsu birahiku mulai meninggi ketika gadis ini
mengelurkan desahan karna aku mengigit bibirnya agar membuka mulutnya supaya
lidahku bisa menerobos masuk. Tanganku dengan sendirinya bergerak menuju
gundukan milih Yoon Hi noona, meremasnya dengan gemas. Ciumanku beralih menuju
leher memberikan beberapa tanda disana, lalu lidahku turun menuju belahan
payudaranya bersiap menjilat setiap incinya. Tapi kegiatanku terhenti karna
tubuh Yoon Hi noona lunglai dan tergeletak di sofa.
“ Aishh… sial, kenapa kau malah pingsan di saat seperti ini
noona? Huft..Baiklah, aku akan bersabar untuk malam ini.”
Aku
memindahkannya ke tempat tidur, merebahkannya dan melepaska sepatunya. Entah
setan apa yang merasukiku hingga mataku terus saja memandangi indahnya tubuh
gadis di hadapanku.
“ Aahh.. gadis ini benar-benar!” Ujarku kesal sambil
menutupi seluruh tubuh gadis itu dengan selimut hingga kepala.
“ Apa dia tidak punya baju lain? Kenapa semuanya begitu
jelas terlihat.
Jungkook Pov. End
…

Next dong thor , apa udah di post next chapnya?
BalasHapusKerennn tauuuu !!!!
lanjutannya gaada ya? :(
BalasHapus