Genre : School Life, Absurd Comedy, Soft
NC
Cast : I. Main Cast : Dhita A Fauzia (OC), Jeon JungKook a.k.a JungKook BTS
II. Support Cast : Jun Shinee (OC), Park Jimin a.k.a Jimin BTS
Author : 95LBiased
Cast : I. Main Cast : Dhita A Fauzia (OC), Jeon JungKook a.k.a JungKook BTS
II. Support Cast : Jun Shinee (OC), Park Jimin a.k.a Jimin BTS
Author : 95LBiased
A/N : Bisa dibilang ini ff pertama saya. Sebelumnya udah sering
bikin cerita, tapi ya bukan dengan cast yang seperti ini. setelah baca jangan jadi silent readers yeth~ Enjoy and ssst this
story contains with NC :D
“Masih berusaha untuk menghindariku,
Shinee?” orang yang merasa namanya dipanggil itu pun mulai menolehkan kepalanya
perlahan. Dan benar saja suara itu berasal dari namja yang sudah beberapa bulan
ini terus mengejarnya. Shinee menampakkan wajah terkejut sekaligus kesal.
“Sudahlah, kau tidak akan bisa
menghindar dariku” kata namja itu lagi sambil menaik turunkan alisnya yang
tebal.
Shinee bangkit dari posisi
jongkoknya dengan kasar. Merapikan rambutnya yang berantakan akibat
kejar-kejaran atau lebih tepatnya dikejar oleh Park Jimin sesaat sebelum ia
berhasil mencari tempat untuk bersembunyi dengan posisi jongkok dibelakang
bangku yang bahkan ia tidak kenali penduduknya. Ngomong-ngomong jongkok ia jadi
teringat akan kakaknya.
“Dari mana kau tahu aku bersembunyi
disini?” tanya Shinee dengan nada yang ditekankan. “Pasti dari kakakku ya?! Oh
itu pasti, inikan kelasnya! Sialan namja itu, lihat saja nanti ketika bertemu
akan aku goreng dia menjadi bubble tea (?)” kata Shinee lagi sebelum
pertanyaannya dijawab oleh Jimin. Kini ia malah sibuk mengomel dan menyangka
tempat persembunyian bocor akibat ulah JungKook yang memberi tau Jimin.
“Hahaha kau belum sadar juga ya?
Lihatlah sekelilingmu, dimana posisimu bersembunyi, Manis?” Jimin menanggapi
ocehan Shinee dengan sengaknya.
Shinee mengedarkan pandang. “Di
kelas kakak ku?” jawab Shinee polos kearah Jimin. Seketika tawa Jimin kembali
meledak.
“Yeahh kau benar. Dan kau bersembunyi tepat di belakang kursiku” kata
Jimin sambil terus tertawa. Shinee merasa amat bodoh dan memandang Jimin dengan
tatapan kesal. Alhasil Jimin semakin terbahak dengan ekspresi yang ditunjukkan
oleh gadis pujaannya. Akhirnya Shinee angkat kaki dari situ karena kesal
ditertawakan oleh Jimin.
“See you later, bae!” kata
Jimin sambil terus tertawa. Jimin membiarkan Shinee menuju kelasnya. Toh, saat
istirahat nanti ia akan kembali menjahili gadis itu.
Pletak...
Tiba-tiba benda tumpul mendarat
tepat dikepala Jimin. Dia tahu siapa pemilik benda ini tanpa harus heboh
berteriak dan menanyakannya atau bahkan membuat poster orang hilang (?)
“Sial kau Park Jimin. Kapan kau akan
puas mengerjai adikku itu, Hah?!” JungKook mulai angkat bicara setelah menjadi
penonton cukup lama hingga tidak terlihat keberadaannya.
“Sampai dia menjadi pacar ku emmm,
Istriku” Jimin masih terus tertawa. Percayalah, penampilan mahluk ini sudah
berantakan akibat terlalu banyak tertawa.
“Aku tidak akan memberikan restu!
Aku tidak ingin punya adik ipar yang lebih tua dariku!” kata JungKook lagi.
tidak peduli, Jimin terus tertawa hingga jam pelajaran pertama dimulai.
----------------------
“Apa harus seperti ini? Oh, ayolah.
Tidak ada yang tau kecuali adikku. Kau tau sendirikan adikku itu tipe yang
seperti apa? dia tidak cepu chaggi” kata JungKook meyakinkan Dhita. Wanita yang
kini menjadi kekasihnya selama sebulan.
“Aku percaya. Hanya saja, aku tidak
yakin dengan jarak umur kita” ucap Dhita lemah. Kini mereka sedang berada
didalam ruang musik lama. Tempat yang sudah tidak berbeda jauh dengan gudang
namun menjadi tempat paling aman pertemuan JungKook dan Dhita disekolah.
Dhita adalah guru yang mengajar
dikelas X dan XI. Sedangkan JungKook, salah satu murid Dhita yang entah kenapa
bisa mencuri hatinya dan sudah sukses sebulan ini menjadi kekasihnya. Awalnya
Dhita risau akan status umur dan profesinya. Ia tidak mau nama baiknya dan nama
baik JungKook menjadi rusak apalagi dikatai Phedofille. Oh, Shit with That.
Berbeda dengan umurnya, JungKook memiliki sikap dan pembawaan yang dewasa. Hal
inilah yang selalu berhasil membuat Dhita nyaman selama berada disamping
JungKook.
“Bagaimana chaggi? Kau hanya perlu
percaya padaku” JungKook masih berusaha meyakinkan Dhita. Kejadian seperti ini
sudah tidak asing terjadi pada mereka. biasanya semua kepesimisan selalu
berasal dari Dhita. Ia merasa minder akan umurnya yang lebih dewasa dari
JungKook. Tapi jungKook tidak peduli itu. Ia menggenggam tangan Dhita, menatap dalam
kedua manik mata kekasihnya.
“Maybe You Old but Remember, You
is My only Gold” kemudian JungKook mencium bibir Dhita lembut. Menghayati
setiap inchi rasa manis yang timbul. Setelah JungKook melepas kecupan
singkatnya Dhita menabok pelan tangan JungKook.
“Aku tidak tua!” kata Dhita dengan
memberenggut kemudian ia dan JungKook tertawa.
-----------
“Jadi, bagaimana? Pergi dengan ku ya
nanti malam”
Shinee asyik meminum jus alpukatnya
tanpa menghiraukan mahluk yang duduk didepannya. Siapa lagi kalau bukan, Park
Jimin. Entah apa yang membuat mahluk kasar itu terus mengejar Shinee. Perasaan Shinee
selalu menggunakan sabun dan membasuhnya dengan air bersih ketika mandi. Atau
mungkin karena kebiasaannya saat mandi itu yang membuat jimin menjadi terus
mengejarnya? Apa benar efek harum yang dikeluarkan oleh sabun yang ia pakai
separah ini? Jika iya, Shinee berjanji tidak akan menggunakan sabun itu lagi.
hitung-hitung berhemat. (Woyy, itumah jorok!)
“Baeeeeeee, jangan abaikan akuuuu”
kata Jimin lagi dengan nada manja. Ia berpindah tempat duduk dari didepan
Shinee menjadi disampingnya. Shinee tidak berniat menggeser posisinya. Ia tetap
cuek.
Cupp...
Sesuatu yang lembab menempel
dipipinya. Singkat. Sangat terasa. Sukses membuat mata Shinee membulat karena
kaget. Ia menoleh cepat kearah Jimin. Dan...
Cupp...
Kali ini justru bibirnya yang
menabrak pipi Jimin. Wajah Shinee semakin memerah, matanya sudah sangat bulat
dan hampir jatuh.
“Park Jiminnnnnn, aku membencimu!!”
kemudian Shinee kembali berlari dari situ. Ia menuju toilet wanita untuk
menghapus jejak bibir Jimin di pipinya sekaligus membasuh bibirnya yang sudah
tidak sengaja menabrak pipi Jimin.
Seperti biasa Jimin hanya tertawa
melihat reaksi adik dari temannya itu. Ya, Shinee adalah adik JungKook. Jimin
satu tahun lebih tua dari JungKook, tapi kini ia sekelas dengan mahluk itu.
Jelas saja, mana mungkin mahluk semalas Jimin bisa naik kelas dengan sukses.
Bersama dengan Kim Taehyung ia adalah trouble maker disekolah ini. Sebagai
ganjarannya ia harus kembali mengulang kelas XI dan saat itulah ia bertemu
dengan Jeon JungKook. Sosok kakak lelaki yang amat bertanggung jawab terhadap
adik satu-satunya, Shinee. Hal itu dibuktikan dengan sikap JungKook yang tidak
merestui Jimin berpacaran dengan Shinee dengan alasan JungKook tidak mau
memiliki adik ipar yang lebih tua darinya. Selain itu, JungKook pun adalah anak
yang dewasa. Pengambilan sikapnya selalu lebih rasional dibanding Jimin apalagi
V alias Kim Taehyung.
---------------
One year later
“Besok kau sudah harus ujian
kelulusan, Kookie. Kenapa masih sempatnya kau menggodaku seperti ini?” Dhita
berusaha menjauhkan tangan JungKook yang melingkar dipinggangnya namun gagal.
“Tenang saja, aku ini pintar. Aku
akan lulus dengan nilai sempurna” JungKook membenamkan kepalanya dileher Dhita
menimbulkan rasa geli dileher wanita cantik itu.
Mereka kini sedang berada di kost-an
Dhita. Jangan ber-negative thinking dulu. mereka hanya berbincang saja dan
kalaupun paling jauh hanya french kiss. Sudah seperti kewajiban JungKook selalu
hadir menemani Dhita di kost-annya setiap malam minggu seperti ini.
“Kookie-yya, bagaimana hubungan kita
setelah kau lulus nanti?” Dhita tiba-tiba memutar badannya mengahadap JungKook
membuat kepala kekasihnya langsung terjatuh kedadanya. Dhita memekik kaget dan
spontan mendorong JungKook. JungKook yang awalnya sudah memejamkan mata kembali
melek akibat dorongan kasar Dhita. Beruntung kepalanya tidak bertemu dengan
nakas disamping sofa tempat mereka duduk. Jika iya, beruntung sekali nakas itu
dapat tersentuh oleh kepala JungKook.
“Aduh maafkan aku Kookie-yya, aku tidak
sengaja” Dhita panik dan langsung menarik tangan JungKook agar kembali
berdekatan dengannya.
“Wajahmu lucu sekali ketika panik
seperti itu hahaha” JungKook hanya tertawa membuat Dhita memanyunkan bibirnya.
“Apakah itu tanda kau meminta kiss
dariku chaggi?” kata JungKook lagi menggoda kekasihnya. Dhita tidak mengubah
bentuk manyun bibirnya justru kini matanya melotot ke arah JungKook.
“Wow, rupanya aku tidak salah lagi”
kemudian JungKook menempelkan bibirnya ke bibir Dhita. Dengan penuh perasaan ia
mengulum bibir itu. Bibir yang selalu membuat ia ketagihan. Bibir yang pertama
kali ia rasakan dan tidak akan berubah. dari rasa ataupun pemiliknya. Dhita dan
bibirnya akan selalu sepaket dengan Jeon JungKook. mungkin setelah menikah
nanti akan berbonus dengan tubuh sintal milik Dhita. Memikirkan itu membuat
JungKook memunculkan smirknya diantara ciuman panas ia dan Dhita.
Dhita segera sadar. Ia melepas paksa
ciuman yang masih tertaut antara bibirnya dan JungKook. JungKook menolak tapi
ia tidak mau melukai perasaan Dhita dengan memaksanya. Dengan berat hati
JungKook melepas bibir manis Dhita dari bibirnya.
“Kau belum menjawab pertanyaanku”
kata Dhita lagi. bulir air mulai menggenang di kedua sudut matanya yang belo.
JungKook menggapai wajah Dhita
dengan kedua tangannya. Menatap lembut kedua mata kekasihnya seperti biasa
ketika ia akan mulai mengatakan — meyakinkan kekasihnya mengenai hubungan
mereka.
“Hubungan kita akan semakin sulit
untuk dipisahkan chaggi. Kau dan aku sudah sepaket. Jika ada lagi mungkin itu
anak kita nantinya” JungKook mengedipkan mata kirinya.
“Percaya kau hanya perlu itu. Tidak
ada yang akan berubah kecuali mungkin milikku yang kini sudah bangun akibat
perbuatan manuvermu tadi” Smirk JungKook kembali muncul. Dhita menunduk malu
mengingat kejadian JungKook jatuh didadanya tadi. Bodoh sekali aku, rutuknya
dalam hati. Kini wajahnya sudah semerah tomat.
“Tenang Chaggi, aku tidak akan
memangsamu sekarang. Aku hanya akan melakukannya saat kita sudah resmi nanti.
Tapi, mmm aku ingin bibirmu lagi” kali ini cengiran yang berhasil muncul di
wajah JungKook. Dhita menjadi tertawa akibat cengiran itu. Cengiran JungKook
selalu menggambarkan usia asli JungKook. muda dan semangat. Dengan senang hati
Dhita memberikan bibirnya. Mereka kembali berpagutan tanpa peduli diluar mulai
mendung dan para petir mulai bersahutan.
Dalam waktu yang sama di tempat yang
berbeda.
“Baeeee, jangan seperti itu. Aku
tidak bermaksud memamerkan milikmu kepada mereka” Jimin sibuk mengejar Shinee
yang sedang ngambek akibat ulahnya.
Jimin berhasil menjadikan Shinee kekasihnya.
Resmi tanpa paksaan dan direstui oleh JungKook. bagaimana bisa? oh, haruskan
dituliskan disini? Akan sepanjang apa ff ini nanti? Kalian lupa ini adalah
kisah utama Dhita dan JungKook sedangkan Shinee dan Jimin adalah, hei siapa
mereka? aku bahkan lupa siapa mereka. baiklah, baik karena aku ini author yang
baik, aku akan menceritakan sedikit bagaiman jalan Shinee akhirnya mau menerima
Jimin.
Flashback on
“Hei, apa yang kau lakukan dikamar
mandiku?!!” Shinee berteriak ketika membuka pintu kamar mandinya dan melihat
Jimin yang juga sedang berdiri tepat didepan pintu seperti baru akan keluar.
“Menurutmu apa yang baru kulakukan
dikamar mandimu?” Jimin melipat kedua tangannya didepan dada dan memunculkan
smirknya. Shit, to be honest Shinee ga pernah bisa menahan ilernya ketika
melihat Jimin sudah memunculkan smirknya.
Shinee memicingkan matanya.
Memperhatikan penampilan Jimin dari atas ke bawah dan berulang-ulang. Rambut
namja didepannya berantakkan, pakaian yang digunakannya pun lecek.
“Kau tidak menggunakan sabunku untuk
hal yang itu kan? Ya, kau pasti tau maksudku” kata Shinee menuduh dan itu
membuat Jimin tertawa.
“Untuk apa aku gunakan sabun jika
disini aku bisa meminta langsung padamu, bae?” Jimin keluar dari sekat kamar
mandi dan kamar Shinee. membuat Shinee mundur karenanya. Jimin meneruskan
jalannya dan mematikan ruang gerak antara mereka. Shinee jatuh terduduk di
ranjangnya. Tubuh Jimin tepat dihadapannya. Posisi Jimin berdiri dan kepalanya
menunduk kearah wajah Shinee.
“Mmmpphh....” suara itu spontan
keluar dari mulut Shinee. bibir tipisnya sudah berada dibibir Jimin. Ia tidak
bisa melawan. Tidak bisa berteriak membenci namja itu seperti biasanya. Tangan
Jimin bergerak menarik tangan Shinee agar melingkar dilehernya tanpa melepas
pagutan bibirnya. Dan ketika itulah JungKook masuk kekamar adiknya.
“Park Jimin, apa yang kau lakukan
pada adikku?!!” JungKook menarik paksa Jimin membuat Jimin tidak sengaja
menggigit bibir Shinee dan cairan merah berhasil muncul dari sana. Shinee
tersadar dan menjadi ketakutan. Ia tidak merasa sakit akibat gigitan Jimin
dibibirnya.
“Oppa, maaf aku.. akuu, akuu..”
Shinee tergagap dan mulai menangis. JungKook menghampiri sang adik dan mulai
memeluknya.
“I know is not your mistake. Dont
cry baby, I’m not mad at you” JungKook menenangkan Shinee. Mengusap pelan
kepalanya. Jimin yang melihat itu hanya bisa diam dan tidak tega karena darah
masih berada dibibir tipis Shinee. Ingin sekali ia mengecup bibir itu lagi.
Setalah Shinee tenang, JungKook dan Jimin berbicara diluar.
“Kau bilang hanya ingin buang air
kecil. Tapi, kenapa justru mencium adikku, hah?!” JungKook meninggikan nada
bicaranya
“Calm down, bro. Okey, sorry. Kau
tau kan aku sudah sejak lama memuja adikmu itu? Aku sudah tidak tahan, JungKook.
dan puncaknya aku melakukan tadi” kata Jimin menyesal
“Ahh, shit. Tadinya aku akan
merestui kalian setelah kita lulus dan kau benar berhasil mendapat nilaimu.
Tapi, sudahlah sana. Aku tidak benar-benar marah padamu. Aku tau meski kau
brengsek kau tidak akan mempermainkan adikku” JungKook bicara dan itu membuat
mata sipit Jimin semakin tidak terlihat karena senyum senangnya.
“Tak ada pelukan!! Pelukanku hanya
untuk Dhita, Adikku Shinee dan eommaku! Bukan tukang penggoda sepertimu!” kata
JungKook cepat ketika Jimin akan memeluknya. Tangan Jimin yang sudah membuka
lebar untuk menyambut pelukan jadi terhenti.
“Mungkin aku bisa menerima pelukan
itu?” kata suara dibelakang kedua namja itu. Itu suara Shinee.
“Ah, aku benci padamu Park Jimin!
Kau, kau sudah mencuri ciuman pertamaku!” kata Shinee merajuk. JungKook
meninggalkan mereka berdua.
“Benarkah? Pantas saja bibirmu itu
sangat manis, aku jadi ingin merasakannya lagi” Jimin memunculkan smirknya.
Flashback off
Jimin berhasil menarik tangan
Shinee. Shinee berhenti akibat tarikan tangan itu. Jimin menghadapkan tubuh
Shinne ketubuhnya. Shinee ngambek pada Jimin karena saat tadi ia berbincang
dengan para teman lelakinya termasuk Kim Taehyung ia membawa-bawa ukuran
dadanya. Sebenernya, Shinee tidak perlu minder karena ukuran dadanya sangat
ideal. Ya, tapi wanita mana yang tidak merajuk ketika bagian pribadinya diumbar
pada orang lain meski itu adalah sahabat baik kekasihnya yang juga sudah akrab
dengannya?
“Baeee, jangan seperti ini. Aku
takut. Maafkan aku baeee. Habisnya mereka terus saja mengumbar cup dada kekasih
mereka yang bahkan sangat dibawah cup dadamu” Jimin menampilkan wajah takut
khas anak kecil yang permennya diambil. Kemudian memeluk erat tubuh Shinee.
“Hahaha, jangan ulangi lagi ya”
Shinee tersenyum kearah kekasihnya. Jimin bangkit dari posisi memeluknya dan
dengan cepat mengecup bibir Shinee. Dengan senang Shinee membalas ciuman itu.
Melingkarkan kedua tangannya dileher Jimin karena pijakannya mulai melemah.
Seperti separuh kekuatannya sudah diambil Jimin lewat ciuman mereka. Shinee
meremas rambut Jimin ketika Jimin mulai menggigit bibirnya. Seperti iu
seterusnya hingga tiba-tiba suara petir memberhentikan mereka. mereka segera
berlari mencari tempat berteduh sambil terus tertawa.
--------------
“Saeng, bagaimana jika besok kita
adakan double date?” JungKook memecah suasana hening yang dari tadi melingkupi
kamar adikknya, Shinee. Shinee yang sedang tengkurap disebelah JungKook tidak
menunjukkan antusias besar. Hanya menaikkan sebelah alisnya karena bingung.
“Kemudian kita kenalkan pasangan
kita pada abbeojhi dan eomma” kata JungKook lagi tenang tapi sarat akan
semangat. Shinee bangkit dari posisinya dan duduk dengan posisi tegak
menampilkan bentuk badan ideal. Perutnya yang rata dan dadanya yang cukup besar
untuk ukuran anak seusia dia.
“Apa kau yakin, Oppa?” tanya Shinee
takut-takut.
“Harus yakin. Aku tidak ingin
melukai perasaan Dhita dengan terus menyembunyikan status hubungan kita” jawab
JungKook. matanya menerawang ke setiap kejadian yang ia lalui dengan Dhita.
“Aku takut abbeojhi tidak menyukai
Jimin-nie. Kau tau sendirikan oppa, bagaimana kelakuan dan penampilan pacar ku
itu?” kata Shinee lagi lesu.
“Yang penting kita kenalkan saja
dulu. Abbeojhi kan sangat memanjakanmu, aku yakin kau akan dengan mudah
mengajaknya berkongsi dan Jimin akan diterima dikeluarga kita” JungKook
menyemangati adiknya. Shinee tersenyum getir
kemudian mengangguk.
“Saeng, mengapa kau dengan mudah
menerima Dhita sebagai kakak iparmu?” tanya JungKook penasaran.
“Bahasamu seperti sudah menikahinya
saja!” dan itu membuat JungKook tertawa.
“Molla. Aku langsung nyaman
dengannya. Ia berbeda dari kebanyakan perempuan yang mengejarmu” Shinee jujur.
“Sepertinya saengku ini sudah
dewasa. Bahasamu seperti telenovela saja” JungKook menggoda adiknya membuat
Sinee memanyunkan bibirnya.
“Dewasa ya? Apa itu berarti aku
boleh melakukan ituuu dengan Jimin-nie?” Shinee balik menggoda JungKook.
spontan JungKook menjitak kepala Shinee membuatnya meringis.
“Tentu saja tidak boleh, bodoh! Apa
kau mau memberinya dengan Cuma-Cuma kepada mahluk berantakan seperti Park
Jimin. Hah?!”
“Oppa kau berfikir terlalu jauh!
Yang kumaksud ituuu bukanlah ituuu! Tapi, mmmm french kiss?” semu merah
berhasil muncul dipipi Shinee. JungKook menjadi salah tingkah mengahadapi pertanyaan
adiknya. Seperti sebuah palu dan cermin sekaligus. Ia kan sering melakukan hal
itu dengan Dhita.
“Terserah kau saja” lalu pergi
meninggalkan Shinee yang terbengong akan jawabannya.
--------------
“Nuna, bagaimana rasanya sudah bisa
bergabung dengan keluargaku?” tanya Shinee pada Dhita. Dhita terkejut akan
pertanyaan itu karena memang saat itu Dhita sedang melamun di bangku taman
rumah pacarnya.
Seperti yang sudah direncanakan oleh
JungKook dan Shinee hari ini mereka melakukan double date. Mereka mengajak
pasangan masing-masing untuk dinner dirumah JungKook kemudian mengenalkan Jimin
dan Dhita ke orangtua mereka. bersyukur orangtua JungKook dengan mudah menerima
keberadaan Dhita sebagai kekasih anak pertamanya. Awalnya memang sangat
menegangkan. Dhita ditanyai banyak hal. Tidak hanya Dhita tapi JungKook juga.
bahkan Shinee dibawa-bawa untuk dijadikan saksi apakah jawaban kedua sejoli itu
benar. Rasanya seperti berada dalam sidang kriminal.
Dan kini tiba giliran Jimin yang
sedang diintrogasi oleh kedua orang tua Shinee. Shinee dan Dhita menunggu
diluar dengan was-was. Didalam JungKook pun sedang memberikan kesaksian.
Beberapa kali gebrakan meja terdengar. Membuat Shinee dan Dhita terkejut.
Shinee semakin bergetar ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan didalam.
Tangan Dhita menyentuh kedua bahu
Shinee dan mulai memeluknya. Mengusap punggung Shinee memberikan ketenangan.
“Tenang Shinee. Mereka itu
laki-laki. Biarkan mereka bekerja selayaknya laki-laki. Kita disini tunggu saja
hasilnya. Nuna yakin, Abbeojhi mu akan merestui hubungan kalian” suara Dhita
sungguh menenangkan.
Beberapa menit kemudian Jimin keluar
bersama JungKook dengan bebrapa luka lebam disudut bibirnya. Lebam itu tidak
sedikitpun mengurangi aura ketampanan yang dimiliki Jimin. Shinee langsung
bangun dari pelukan Dhita dan berlari menghampiri Jimin. Ia ingin segera
memeluk kekasihnya itu. Saat tinggal sedikit lagi ia akan merengkuh tubuh Jimin
Bughh....
Ia jatuh dalam pelukan Oppanya. Ia
memeluk atau tepatnya dipakasa memeluk JungKook. JungKook menghalangi kedua
pasangan muda itu untuk saling memeluk. Shinee mencium aroma berbeda dari sosok
yang ia peluk. Shinee mendongakan kepalanya dan langsung menemukan wajah
JungKook yangsedang memberikan senyum kudanya.
“Oppa lepas, aku ingin memeluk Jimin-nie”
Shinee berusaha melepaskan pelukan itu tapi JungKook tidak mengizinkan.
“Jadi sekarang kau lebih nyaman
dipeluk oleh mahluk pendek penggoda itu daripada oleh oppa mu sendiri, saeng?”
Shinee terdiam.
“Bukan begitu. Jika aku masih betah
memelukmu berarti aku akan memakan ruang nuna Dhita” JungKook melepas
pelukannya.
“baiklah, kau selalu bisa memberikan
jawaban yang masuk akal. Sana, peluk mahluk pendek penggoda itu. Tapi, kau
harus hati-hati”
“Hati-hati untuk apa, oppa?” tanya
Shinee penasaran. JungKook mendekatkan bibirnya ketelinga Shinee.
“Ia habis fighting dengan abbeojhi”
Shinee terkejut. Matanya membulat. Kemudian mengangguk kaku. Sekarang dia tahu
darimana lebam-lebam itu Jimin dapatkan.
Setelah itu JungKook mengajak Dhita
menjauh dari taman. Membiarkan luang untuk Shinee dan
Jimin. Shinee berjalan
pelan kearah Jimin. Menatap nanar lebam yang bertengger diwajah kekasihnya.
“Bae, kenapa jalanmu lama sekali?
Palli” karena tidak sabar Jimin langsung berlari memeluk Shinee.
“Apa yang kalian lakukan didalam?”
tanya Shinee disela pelukannya dengan Jimin.
“Berdiam memperhatikan saat ayahmu
memberiku pelajaran” jawab Jimin enteng.
“Aneh, kau inikan bukan tipe orang
yang suka belajar” Shinee memicingkan matanya menatap Jimin.
“Mungkin itu pengecualian jika gurunya
adalah ayahmu dan pelajarannya adalah dirimu” Kemudian Jimin mengecup bibir
Shinee. Shinee memejamkan matanya menikmati. Ia sangat senang akhirnya orangtua
nya mau merestui Jimin sebagai kekasihnya.
Jimin berusaha memasukkan lidahnya
kemulut Shinee membuat Shinee terkejut dan membuka matanya. Jimin tidak
perduli. Namja itu terus melumat gemas bibir Shinee. Berusaha memasuki mulut
gadis itu dan mengaitkan lidah mereka.
“Bae, Oppa mu bilang, kau ingin
merasakan french kiss denganku. Mengapa sekarang kau hanya diam dan tak
membalas?” Jimin berkata sambil mulutnya berpindah keleher Shinee. Memberikan
tanda kepemilikannya.
“Shhshhh... maaf aku, ngghhh, Park
Jimin apa yang kau lakukan dileherku?”
“memberikan segel” Jimin memunculkan
smirknya dan kembali mecium bibir tipis Shinee. Shinee meresponnya dengan
remasan dirambut Jimin. Hal yang paling disukai Jimin saat mereka sedang
berciuman. Kali inipun Shinee mulai berani membalas lilitan lidah Jimin. Ciuman
mereka semakin panas menimbulkan bunyi-bunyi kenikmatan. Disisi lain hal serupa
juga sedang dilakukan oleh Dhita dan JungKook.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar