Entri Populer

Minggu, 14 Desember 2014

Peculiar Limarence



Genre : School Life, Absurd Comedy, Soft NC
Cast : I. Main Cast : Dhita A Fauzia (OC), Jeon JungKook a.k.a JungKook BTS
          II. Support Cast : Jun Shinee (OC), Park Jimin a.k.a Jimin BTS
Author : 95LBiased

A/N : Bisa dibilang ini ff pertama saya. Sebelumnya udah sering bikin cerita, tapi ya bukan dengan cast yang seperti ini. setelah baca jangan jadi silent readers yeth~ Enjoy and ssst this story contains with NC :D

“Masih berusaha untuk menghindariku, Shinee?” orang yang merasa namanya dipanggil itu pun mulai menolehkan kepalanya perlahan. Dan benar saja suara itu berasal dari namja yang sudah beberapa bulan ini terus mengejarnya. Shinee menampakkan wajah terkejut sekaligus kesal.
“Sudahlah, kau tidak akan bisa menghindar dariku” kata namja itu lagi sambil menaik turunkan alisnya yang tebal.

Shinee bangkit dari posisi jongkoknya dengan kasar. Merapikan rambutnya yang berantakan akibat kejar-kejaran atau lebih tepatnya dikejar oleh Park Jimin sesaat sebelum ia berhasil mencari tempat untuk bersembunyi dengan posisi jongkok dibelakang bangku yang bahkan ia tidak kenali penduduknya. Ngomong-ngomong jongkok ia jadi teringat akan kakaknya.

“Dari mana kau tahu aku bersembunyi disini?” tanya Shinee dengan nada yang ditekankan. “Pasti dari kakakku ya?! Oh itu pasti, inikan kelasnya! Sialan namja itu, lihat saja nanti ketika bertemu akan aku goreng dia menjadi bubble tea (?)” kata Shinee lagi sebelum pertanyaannya dijawab oleh Jimin. Kini ia malah sibuk mengomel dan menyangka tempat persembunyian bocor akibat ulah JungKook yang memberi tau Jimin.

“Hahaha kau belum sadar juga ya? Lihatlah sekelilingmu, dimana posisimu bersembunyi, Manis?” Jimin menanggapi ocehan Shinee dengan sengaknya.

Shinee mengedarkan pandang. “Di kelas kakak ku?” jawab Shinee polos kearah Jimin. Seketika tawa Jimin kembali meledak. 

“Yeahh kau benar. Dan kau bersembunyi tepat di belakang kursiku” kata Jimin sambil terus tertawa. Shinee merasa amat bodoh dan memandang Jimin dengan tatapan kesal. Alhasil Jimin semakin terbahak dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh gadis pujaannya. Akhirnya Shinee angkat kaki dari situ karena kesal ditertawakan oleh Jimin.

See you later, bae!” kata Jimin sambil terus tertawa. Jimin membiarkan Shinee menuju kelasnya. Toh, saat istirahat nanti ia akan kembali menjahili gadis itu.

Pletak...

Tiba-tiba benda tumpul mendarat tepat dikepala Jimin. Dia tahu siapa pemilik benda ini tanpa harus heboh berteriak dan menanyakannya atau bahkan membuat poster orang hilang (?)

“Sial kau Park Jimin. Kapan kau akan puas mengerjai adikku itu, Hah?!” JungKook mulai angkat bicara setelah menjadi penonton cukup lama hingga tidak terlihat keberadaannya.

“Sampai dia menjadi pacar ku emmm, Istriku” Jimin masih terus tertawa. Percayalah, penampilan mahluk ini sudah berantakan akibat terlalu banyak tertawa.

“Aku tidak akan memberikan restu! Aku tidak ingin punya adik ipar yang lebih tua dariku!” kata JungKook lagi. tidak peduli, Jimin terus tertawa hingga jam pelajaran pertama dimulai.

----------------------

“Apa harus seperti ini? Oh, ayolah. Tidak ada yang tau kecuali adikku. Kau tau sendirikan adikku itu tipe yang seperti apa? dia tidak cepu chaggi” kata JungKook meyakinkan Dhita. Wanita yang kini menjadi kekasihnya selama sebulan.

“Aku percaya. Hanya saja, aku tidak yakin dengan jarak umur kita” ucap Dhita lemah. Kini mereka sedang berada didalam ruang musik lama. Tempat yang sudah tidak berbeda jauh dengan gudang namun menjadi tempat paling aman pertemuan JungKook dan Dhita disekolah.

Dhita adalah guru yang mengajar dikelas X dan XI. Sedangkan JungKook, salah satu murid Dhita yang entah kenapa bisa mencuri hatinya dan sudah sukses sebulan ini menjadi kekasihnya. Awalnya Dhita risau akan status umur dan profesinya. Ia tidak mau nama baiknya dan nama baik JungKook menjadi rusak apalagi dikatai Phedofille. Oh, Shit with That. Berbeda dengan umurnya, JungKook memiliki sikap dan pembawaan yang dewasa. Hal inilah yang selalu berhasil membuat Dhita nyaman selama berada disamping JungKook.

“Bagaimana chaggi? Kau hanya perlu percaya padaku” JungKook masih berusaha meyakinkan Dhita. Kejadian seperti ini sudah tidak asing terjadi pada mereka. biasanya semua kepesimisan selalu berasal dari Dhita. Ia merasa minder akan umurnya yang lebih dewasa dari JungKook. Tapi jungKook tidak peduli itu. Ia menggenggam tangan Dhita, menatap dalam kedua manik mata kekasihnya.

Maybe You Old but Remember, You is My only Gold” kemudian JungKook mencium bibir Dhita lembut. Menghayati setiap inchi rasa manis yang timbul. Setelah JungKook melepas kecupan singkatnya Dhita menabok pelan tangan JungKook.

“Aku tidak tua!” kata Dhita dengan memberenggut kemudian ia dan JungKook tertawa.

-----------

“Jadi, bagaimana? Pergi dengan ku ya nanti malam”
Shinee asyik meminum jus alpukatnya tanpa menghiraukan mahluk yang duduk didepannya. Siapa lagi kalau bukan, Park Jimin. Entah apa yang membuat mahluk kasar itu terus mengejar Shinee. Perasaan Shinee selalu menggunakan sabun dan membasuhnya dengan air bersih ketika mandi. Atau mungkin karena kebiasaannya saat mandi itu yang membuat jimin menjadi terus mengejarnya? Apa benar efek harum yang dikeluarkan oleh sabun yang ia pakai separah ini? Jika iya, Shinee berjanji tidak akan menggunakan sabun itu lagi. hitung-hitung berhemat. (Woyy, itumah jorok!)

“Baeeeeeee, jangan abaikan akuuuu” kata Jimin lagi dengan nada manja. Ia berpindah tempat duduk dari didepan Shinee menjadi disampingnya. Shinee tidak berniat menggeser posisinya. Ia tetap cuek.

Cupp...

Sesuatu yang lembab menempel dipipinya. Singkat. Sangat terasa. Sukses membuat mata Shinee membulat karena kaget. Ia menoleh cepat kearah Jimin. Dan...

Cupp...

Kali ini justru bibirnya yang menabrak pipi Jimin. Wajah Shinee semakin memerah, matanya sudah sangat bulat dan hampir jatuh.

“Park Jiminnnnnn, aku membencimu!!” kemudian Shinee kembali berlari dari situ. Ia menuju toilet wanita untuk menghapus jejak bibir Jimin di pipinya sekaligus membasuh bibirnya yang sudah tidak sengaja menabrak pipi Jimin.

Seperti biasa Jimin hanya tertawa melihat reaksi adik dari temannya itu. Ya, Shinee adalah adik JungKook. Jimin satu tahun lebih tua dari JungKook, tapi kini ia sekelas dengan mahluk itu. Jelas saja, mana mungkin mahluk semalas Jimin bisa naik kelas dengan sukses. Bersama dengan Kim Taehyung ia adalah trouble maker disekolah ini. Sebagai ganjarannya ia harus kembali mengulang kelas XI dan saat itulah ia bertemu dengan Jeon JungKook. Sosok kakak lelaki yang amat bertanggung jawab terhadap adik satu-satunya, Shinee. Hal itu dibuktikan dengan sikap JungKook yang tidak merestui Jimin berpacaran dengan Shinee dengan alasan JungKook tidak mau memiliki adik ipar yang lebih tua darinya. Selain itu, JungKook pun adalah anak yang dewasa. Pengambilan sikapnya selalu lebih rasional dibanding Jimin apalagi V alias Kim Taehyung.

---------------

One year later

“Besok kau sudah harus ujian kelulusan, Kookie. Kenapa masih sempatnya kau menggodaku seperti ini?” Dhita berusaha menjauhkan tangan JungKook yang melingkar dipinggangnya namun gagal.

“Tenang saja, aku ini pintar. Aku akan lulus dengan nilai sempurna” JungKook membenamkan kepalanya dileher Dhita menimbulkan rasa geli dileher wanita cantik itu.
Mereka kini sedang berada di kost-an Dhita. Jangan ber-negative thinking dulu. mereka hanya berbincang saja dan kalaupun paling jauh hanya french kiss. Sudah seperti kewajiban JungKook selalu hadir menemani Dhita di kost-annya setiap malam minggu seperti ini.

“Kookie-yya, bagaimana hubungan kita setelah kau lulus nanti?” Dhita tiba-tiba memutar badannya mengahadap JungKook membuat kepala kekasihnya langsung terjatuh kedadanya. Dhita memekik kaget dan spontan mendorong JungKook. JungKook yang awalnya sudah memejamkan mata kembali melek akibat dorongan kasar Dhita. Beruntung kepalanya tidak bertemu dengan nakas disamping sofa tempat mereka duduk. Jika iya, beruntung sekali nakas itu dapat tersentuh oleh kepala JungKook.

 “Aduh maafkan aku Kookie-yya, aku tidak sengaja” Dhita panik dan langsung menarik tangan JungKook agar kembali berdekatan dengannya.

“Wajahmu lucu sekali ketika panik seperti itu hahaha” JungKook hanya tertawa membuat Dhita memanyunkan bibirnya.

“Apakah itu tanda kau meminta kiss dariku chaggi?” kata JungKook lagi menggoda kekasihnya. Dhita tidak mengubah bentuk manyun bibirnya justru kini matanya melotot ke arah JungKook.

“Wow, rupanya aku tidak salah lagi” kemudian JungKook menempelkan bibirnya ke bibir Dhita. Dengan penuh perasaan ia mengulum bibir itu. Bibir yang selalu membuat ia ketagihan. Bibir yang pertama kali ia rasakan dan tidak akan berubah. dari rasa ataupun pemiliknya. Dhita dan bibirnya akan selalu sepaket dengan Jeon JungKook. mungkin setelah menikah nanti akan berbonus dengan tubuh sintal milik Dhita. Memikirkan itu membuat JungKook memunculkan smirknya diantara ciuman panas ia dan Dhita.

Dhita segera sadar. Ia melepas paksa ciuman yang masih tertaut antara bibirnya dan JungKook. JungKook menolak tapi ia tidak mau melukai perasaan Dhita dengan memaksanya. Dengan berat hati JungKook melepas bibir manis Dhita dari bibirnya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku” kata Dhita lagi. bulir air mulai menggenang di kedua sudut matanya yang belo.

JungKook menggapai wajah Dhita dengan kedua tangannya. Menatap lembut kedua mata kekasihnya seperti biasa ketika ia akan mulai mengatakan — meyakinkan kekasihnya mengenai hubungan mereka.

“Hubungan kita akan semakin sulit untuk dipisahkan chaggi. Kau dan aku sudah sepaket. Jika ada lagi mungkin itu anak kita nantinya” JungKook mengedipkan mata kirinya.

“Percaya kau hanya perlu itu. Tidak ada yang akan berubah kecuali mungkin milikku yang kini sudah bangun akibat perbuatan manuvermu tadi” Smirk JungKook kembali muncul. Dhita menunduk malu mengingat kejadian JungKook jatuh didadanya tadi. Bodoh sekali aku, rutuknya dalam hati. Kini wajahnya sudah semerah tomat.

“Tenang Chaggi, aku tidak akan memangsamu sekarang. Aku hanya akan melakukannya saat kita sudah resmi nanti. Tapi, mmm aku ingin bibirmu lagi” kali ini cengiran yang berhasil muncul di wajah JungKook. Dhita menjadi tertawa akibat cengiran itu. Cengiran JungKook selalu menggambarkan usia asli JungKook. muda dan semangat. Dengan senang hati Dhita memberikan bibirnya. Mereka kembali berpagutan tanpa peduli diluar mulai mendung dan para petir mulai bersahutan.

Dalam waktu yang sama di tempat yang berbeda.

“Baeeee, jangan seperti itu. Aku tidak bermaksud memamerkan milikmu kepada mereka” Jimin sibuk mengejar Shinee yang sedang ngambek akibat ulahnya.
Jimin berhasil menjadikan Shinee kekasihnya. Resmi tanpa paksaan dan direstui oleh JungKook. bagaimana bisa? oh, haruskan dituliskan disini? Akan sepanjang apa ff ini nanti? Kalian lupa ini adalah kisah utama Dhita dan JungKook sedangkan Shinee dan Jimin adalah, hei siapa mereka? aku bahkan lupa siapa mereka. baiklah, baik karena aku ini author yang baik, aku akan menceritakan sedikit bagaiman jalan Shinee akhirnya mau menerima Jimin.

Flashback on

“Hei, apa yang kau lakukan dikamar mandiku?!!” Shinee berteriak ketika membuka pintu kamar mandinya dan melihat Jimin yang juga sedang berdiri tepat didepan pintu seperti baru akan keluar.

“Menurutmu apa yang baru kulakukan dikamar mandimu?” Jimin melipat kedua tangannya didepan dada dan memunculkan smirknya. Shit, to be honest Shinee ga pernah bisa menahan ilernya ketika melihat Jimin sudah memunculkan smirknya.
Shinee memicingkan matanya. Memperhatikan penampilan Jimin dari atas ke bawah dan berulang-ulang. Rambut namja didepannya berantakkan, pakaian yang digunakannya pun lecek.

“Kau tidak menggunakan sabunku untuk hal yang itu kan? Ya, kau pasti tau maksudku” kata Shinee menuduh dan itu membuat Jimin tertawa.

“Untuk apa aku gunakan sabun jika disini aku bisa meminta langsung padamu, bae?” Jimin keluar dari sekat kamar mandi dan kamar Shinee. membuat Shinee mundur karenanya. Jimin meneruskan jalannya dan mematikan ruang gerak antara mereka. Shinee jatuh terduduk di ranjangnya. Tubuh Jimin tepat dihadapannya. Posisi Jimin berdiri dan kepalanya menunduk kearah wajah Shinee.

“Mmmpphh....” suara itu spontan keluar dari mulut Shinee. bibir tipisnya sudah berada dibibir Jimin. Ia tidak bisa melawan. Tidak bisa berteriak membenci namja itu seperti biasanya. Tangan Jimin bergerak menarik tangan Shinee agar melingkar dilehernya tanpa melepas pagutan bibirnya. Dan ketika itulah JungKook masuk kekamar adiknya.

“Park Jimin, apa yang kau lakukan pada adikku?!!” JungKook menarik paksa Jimin membuat Jimin tidak sengaja menggigit bibir Shinee dan cairan merah berhasil muncul dari sana. Shinee tersadar dan menjadi ketakutan. Ia tidak merasa sakit akibat gigitan Jimin dibibirnya.

“Oppa, maaf aku.. akuu, akuu..” Shinee tergagap dan mulai menangis. JungKook menghampiri sang adik dan mulai memeluknya.

“I know is not your mistake. Dont cry baby, I’m not mad at you” JungKook menenangkan Shinee. Mengusap pelan kepalanya. Jimin yang melihat itu hanya bisa diam dan tidak tega karena darah masih berada dibibir tipis Shinee. Ingin sekali ia mengecup bibir itu lagi. Setalah Shinee tenang, JungKook dan Jimin berbicara diluar.

“Kau bilang hanya ingin buang air kecil. Tapi, kenapa justru mencium adikku, hah?!” JungKook meninggikan nada bicaranya

Calm down, bro. Okey, sorry. Kau tau kan aku sudah sejak lama memuja adikmu itu? Aku sudah tidak tahan, JungKook. dan puncaknya aku melakukan tadi” kata Jimin menyesal

“Ahh, shit. Tadinya aku akan merestui kalian setelah kita lulus dan kau benar berhasil mendapat nilaimu. Tapi, sudahlah sana. Aku tidak benar-benar marah padamu. Aku tau meski kau brengsek kau tidak akan mempermainkan adikku” JungKook bicara dan itu membuat mata sipit Jimin semakin tidak terlihat karena senyum senangnya.

“Tak ada pelukan!! Pelukanku hanya untuk Dhita, Adikku Shinee dan eommaku! Bukan tukang penggoda sepertimu!” kata JungKook cepat ketika Jimin akan memeluknya. Tangan Jimin yang sudah membuka lebar untuk menyambut pelukan jadi terhenti.

“Mungkin aku bisa menerima pelukan itu?” kata suara dibelakang kedua namja itu. Itu suara Shinee.

“Ah, aku benci padamu Park Jimin! Kau, kau sudah mencuri ciuman pertamaku!” kata Shinee merajuk. JungKook meninggalkan mereka berdua.

“Benarkah? Pantas saja bibirmu itu sangat manis, aku jadi ingin merasakannya lagi” Jimin memunculkan smirknya.

Flashback off

Jimin berhasil menarik tangan Shinee. Shinee berhenti akibat tarikan tangan itu. Jimin menghadapkan tubuh Shinne ketubuhnya. Shinee ngambek pada Jimin karena saat tadi ia berbincang dengan para teman lelakinya termasuk Kim Taehyung ia membawa-bawa ukuran dadanya. Sebenernya, Shinee tidak perlu minder karena ukuran dadanya sangat ideal. Ya, tapi wanita mana yang tidak merajuk ketika bagian pribadinya diumbar pada orang lain meski itu adalah sahabat baik kekasihnya yang juga sudah akrab dengannya?

“Baeee, jangan seperti ini. Aku takut. Maafkan aku baeee. Habisnya mereka terus saja mengumbar cup dada kekasih mereka yang bahkan sangat dibawah cup dadamu” Jimin menampilkan wajah takut khas anak kecil yang permennya diambil. Kemudian memeluk erat tubuh Shinee.

“Hahaha, jangan ulangi lagi ya” Shinee tersenyum kearah kekasihnya. Jimin bangkit dari posisi memeluknya dan dengan cepat mengecup bibir Shinee. Dengan senang Shinee membalas ciuman itu. Melingkarkan kedua tangannya dileher Jimin karena pijakannya mulai melemah. Seperti separuh kekuatannya sudah diambil Jimin lewat ciuman mereka. Shinee meremas rambut Jimin ketika Jimin mulai menggigit bibirnya. Seperti iu seterusnya hingga tiba-tiba suara petir memberhentikan mereka. mereka segera berlari mencari tempat berteduh sambil terus tertawa.

--------------

“Saeng, bagaimana jika besok kita adakan double date?” JungKook memecah suasana hening yang dari tadi melingkupi kamar adikknya, Shinee. Shinee yang sedang tengkurap disebelah JungKook tidak menunjukkan antusias besar. Hanya menaikkan sebelah alisnya karena bingung.

“Kemudian kita kenalkan pasangan kita pada abbeojhi dan eomma” kata JungKook lagi tenang tapi sarat akan semangat. Shinee bangkit dari posisinya dan duduk dengan posisi tegak menampilkan bentuk badan ideal. Perutnya yang rata dan dadanya yang cukup besar untuk ukuran anak seusia dia.

“Apa kau yakin, Oppa?” tanya Shinee takut-takut.

“Harus yakin. Aku tidak ingin melukai perasaan Dhita dengan terus menyembunyikan status hubungan kita” jawab JungKook. matanya menerawang ke setiap kejadian yang ia lalui dengan Dhita.

“Aku takut abbeojhi tidak menyukai Jimin-nie. Kau tau sendirikan oppa, bagaimana kelakuan dan penampilan pacar ku itu?” kata Shinee lagi lesu.

“Yang penting kita kenalkan saja dulu. Abbeojhi kan sangat memanjakanmu, aku yakin kau akan dengan mudah mengajaknya berkongsi dan Jimin akan diterima dikeluarga kita” JungKook menyemangati adiknya. Shinee tersenyum getir  kemudian mengangguk.

“Saeng, mengapa kau dengan mudah menerima Dhita sebagai kakak iparmu?” tanya JungKook penasaran.

“Bahasamu seperti sudah menikahinya saja!” dan itu membuat JungKook tertawa.

“Molla. Aku langsung nyaman dengannya. Ia berbeda dari kebanyakan perempuan yang mengejarmu” Shinee jujur.

“Sepertinya saengku ini sudah dewasa. Bahasamu seperti telenovela saja” JungKook menggoda adiknya membuat Sinee memanyunkan bibirnya.

“Dewasa ya? Apa itu berarti aku boleh melakukan ituuu dengan Jimin-nie?” Shinee balik menggoda JungKook. spontan JungKook menjitak kepala Shinee membuatnya meringis.

“Tentu saja tidak boleh, bodoh! Apa kau mau memberinya dengan Cuma-Cuma kepada mahluk berantakan seperti Park Jimin. Hah?!”

“Oppa kau berfikir terlalu jauh! Yang kumaksud ituuu bukanlah ituuu! Tapi, mmmm french kiss?” semu merah berhasil muncul dipipi Shinee. JungKook menjadi salah tingkah mengahadapi pertanyaan adiknya. Seperti sebuah palu dan cermin sekaligus. Ia kan sering melakukan hal itu dengan Dhita.

“Terserah kau saja” lalu pergi meninggalkan Shinee yang terbengong akan jawabannya.

--------------

“Nuna, bagaimana rasanya sudah bisa bergabung dengan keluargaku?” tanya Shinee pada Dhita. Dhita terkejut akan pertanyaan itu karena memang saat itu Dhita sedang melamun di bangku taman rumah pacarnya.

Seperti yang sudah direncanakan oleh JungKook dan Shinee hari ini mereka melakukan double date. Mereka mengajak pasangan masing-masing untuk dinner dirumah JungKook kemudian mengenalkan Jimin dan Dhita ke orangtua mereka. bersyukur orangtua JungKook dengan mudah menerima keberadaan Dhita sebagai kekasih anak pertamanya. Awalnya memang sangat menegangkan. Dhita ditanyai banyak hal. Tidak hanya Dhita tapi JungKook juga. bahkan Shinee dibawa-bawa untuk dijadikan saksi apakah jawaban kedua sejoli itu benar. Rasanya seperti berada dalam sidang kriminal.
Dan kini tiba giliran Jimin yang sedang diintrogasi oleh kedua orang tua Shinee. Shinee dan Dhita menunggu diluar dengan was-was. Didalam JungKook pun sedang memberikan kesaksian. Beberapa kali gebrakan meja terdengar. Membuat Shinee dan Dhita terkejut. Shinee semakin bergetar ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan didalam.

Tangan Dhita menyentuh kedua bahu Shinee dan mulai memeluknya. Mengusap punggung Shinee memberikan ketenangan.

“Tenang Shinee. Mereka itu laki-laki. Biarkan mereka bekerja selayaknya laki-laki. Kita disini tunggu saja hasilnya. Nuna yakin, Abbeojhi mu akan merestui hubungan kalian” suara Dhita sungguh menenangkan.
Beberapa menit kemudian Jimin keluar bersama JungKook dengan bebrapa luka lebam disudut bibirnya. Lebam itu tidak sedikitpun mengurangi aura ketampanan yang dimiliki Jimin. Shinee langsung bangun dari pelukan Dhita dan berlari menghampiri Jimin. Ia ingin segera memeluk kekasihnya itu. Saat tinggal sedikit lagi ia akan merengkuh tubuh Jimin

Bughh....

Ia jatuh dalam pelukan Oppanya. Ia memeluk atau tepatnya dipakasa memeluk JungKook. JungKook menghalangi kedua pasangan muda itu untuk saling memeluk. Shinee mencium aroma berbeda dari sosok yang ia peluk. Shinee mendongakan kepalanya dan langsung menemukan wajah JungKook yangsedang memberikan senyum kudanya.

“Oppa lepas, aku ingin memeluk Jimin-nie” Shinee berusaha melepaskan pelukan itu tapi JungKook tidak mengizinkan.

“Jadi sekarang kau lebih nyaman dipeluk oleh mahluk pendek penggoda itu daripada oleh oppa mu sendiri, saeng?” Shinee terdiam.

“Bukan begitu. Jika aku masih betah memelukmu berarti aku akan memakan ruang nuna Dhita” JungKook melepas pelukannya.

“baiklah, kau selalu bisa memberikan jawaban yang masuk akal. Sana, peluk mahluk pendek penggoda itu. Tapi, kau harus hati-hati”

“Hati-hati untuk apa, oppa?” tanya Shinee penasaran. JungKook mendekatkan bibirnya ketelinga Shinee.

“Ia habis fighting dengan abbeojhi” Shinee terkejut. Matanya membulat. Kemudian mengangguk kaku. Sekarang dia tahu darimana lebam-lebam itu Jimin dapatkan.

Setelah itu JungKook mengajak Dhita menjauh dari taman. Membiarkan luang untuk Shinee dan 
Jimin. Shinee berjalan pelan kearah Jimin. Menatap nanar lebam yang bertengger diwajah kekasihnya.

“Bae, kenapa jalanmu lama sekali? Palli” karena tidak sabar Jimin langsung berlari memeluk Shinee.

“Apa yang kalian lakukan didalam?” tanya Shinee disela pelukannya dengan Jimin.

“Berdiam memperhatikan saat ayahmu memberiku pelajaran” jawab Jimin enteng.

“Aneh, kau inikan bukan tipe orang yang suka belajar” Shinee memicingkan matanya menatap Jimin.

“Mungkin itu pengecualian jika gurunya adalah ayahmu dan pelajarannya adalah dirimu” Kemudian Jimin mengecup bibir Shinee. Shinee memejamkan matanya menikmati. Ia sangat senang akhirnya orangtua nya mau merestui Jimin sebagai kekasihnya.

Jimin berusaha memasukkan lidahnya kemulut Shinee membuat Shinee terkejut dan membuka matanya. Jimin tidak perduli. Namja itu terus melumat gemas bibir Shinee. Berusaha memasuki mulut gadis itu dan mengaitkan lidah mereka.

“Bae, Oppa mu bilang, kau ingin merasakan french kiss denganku. Mengapa sekarang kau hanya diam dan tak membalas?” Jimin berkata sambil mulutnya berpindah keleher Shinee. Memberikan tanda kepemilikannya.

“Shhshhh... maaf aku, ngghhh, Park Jimin apa yang kau lakukan dileherku?”

“memberikan segel” Jimin memunculkan smirknya dan kembali mecium bibir tipis Shinee. Shinee meresponnya dengan remasan dirambut Jimin. Hal yang paling disukai Jimin saat mereka sedang berciuman. Kali inipun Shinee mulai berani membalas lilitan lidah Jimin. Ciuman mereka semakin panas menimbulkan bunyi-bunyi kenikmatan. Disisi lain hal serupa juga sedang dilakukan oleh Dhita dan JungKook. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar