Title : Unrequited First Love
Rating : Teenager
Length : Oneshoot
Genre : Romance, Hurt
Casts :
Song Hyojin (OC)
Min Yoongi (BTS)
Shin Jinyoung (OC)
Jeon Jungkook (BTS)
Kim Namjoon (BTS)
Park Jimin (BTS)
Yoon Hyemin (OC)
Disclaimer :
FF ini murni milik author, karena sebagian besar cerita di FF ini adalah cerita real author, dan juga author terinspirasi bikin FF ini abis nonton Boys Over Flowers /udah kesekian kalinya nonton, tapi baru kali ini nyambung -_- / ~
Maaf kalo ada kesamaan nama cast OC dengan author lain, tapi ini asli karangan author~
Dan di FF ini author cuma pakai sudut pandangnya mbak Hyojin si OCnya~
Author's Note :
Haaii~ Author jjkim_ririe imnida~ Bisa dipanggil J/Ririe~
Author bawa FF bikinan author yang genrenya romance hurt~
Haaahh.....
Cerita ini real cerita author, tapi jelas ada beberapa yang author ganti & nggak author ceritain, ada juga yang author karang, tapi sebagian besar yang ada dicerita ini real~
Komen, kritik, & saran ditunggu yah~ Kalo ada typo, author mohon maaf sebesar-besarnya~
Oke deh, daripada author kebanyakan ngomong, mending langsung dibaca aja~ Enjoy~ ^^
Perkenalkan. Namaku Song Hyojin, usiaku tujuh belas tahun, tahun ini. Aku adalah siswi tahun kedua di Cheongdam High School. Aku juga seorang anggota komite siswa Cheongdam High School.
Seperti hari ini, aku ditugaskan untuk menjemput sepuluh orang siswa-siswi dari Daegu High School. Iya, aku menjabat sebagai wakil ketua bagian lapangan, yang kerjanya mengatur bagaimana kinerja komite siswa sekolahku di lapangan. Dan Cheongdam High School juga Daegu High School mengirimkan beberapa siswanya untuk mengikuti pertukaran pelajar. Tapi yang benar saja, kali ini aku harus menjemput sepuluh siswa-siswi pertukaran Daegu High School, sendirian?? Dasar Kim Namjoon, ketua komite yang seenaknya sendiri.
Aku menunggu kedatangan mereka di Seoul Metro Train Station. Biasanya dalam bertugas, aku akan ditemani Park Jimin atau Yoon Hyemin, kedua sahabat baikku, walau mereka bukan anggota komite siswa. Tapi Jimin menjadi salah satu siswa yang mengikuti pertukaran pelajar itu dan dia sudah ke Daegu kemarin. Sedangkan Hyemin? Dia sedang demam dan flu. Dan ketua bagian lapangannya, Jung Hoseok, sedang mengikuti pertandingan basket antar sekolah.
Aku menghela napas. Sudah setengah jam lebih aku menunggu. Kalau saja aku tidak bertugas menjemput mereka, sekarang aku pasti berada di pinggir lapangan basket, untuk menyemangati tim sekolahku, khususnya Seokjin sunbae. Seokjin sunbae memang terkenal di Cheongdam High School. Selain karena dia tampan, dia juga tinggi, jago menyanyi, jago berakting, dan juga pandai. Semua siswi di Cheongdam High School mengidolakannya, termasuk aku.
Saat teringat Seokjin sunbae, tiba-tiba ponselku berdering. Aku mengambilnya dan membaca nama yang tertera di layar ponselku, kemudian aku mendengus. “Namjoon." Aku mengangkat sambungan telepon darinya.
"Yeoboseyo?"
"Yeoboseyo. Ya! Song Hyojin! Kau dimana?"
"Tidak perlu berteriak-teriak seperti itu! Aku sudah di Seoul Metro Station sejak setengah jam yang lalu."
"Sepuluh siswa itu belum datang?"
"Kalau aku masih menunggu disini, itu tandanya mereka belum datang. Kau ini."
"Baiklah. Kalau begitu akan kuberikan nomor ponsel salah satu dari mereka agar kau bisa menghubungi mereka."
Aku tercengang.
"Ya! Kim Namjoon! Kenapa kau tidak memberikannya padaku kemarin?!"
"Hehe. Maaf. Aku lupa."
"Aish, jinjja! Kau..! Aku heran kenapa Jung seonsaengnim memilihmu jadi ketua komite siswa Cheongdam High School!"
"..."
"Kau benar-benar menyebalkan, Rap Monster!! Kau menyuruhku menjemput mereka sendirian dan kau baru memberi nomor ponsel mereka padaku, sekarang?! Awas saja kau. Kalau nanti aku bertemu denganmu di sekolah nanti, akan kupukul kau! Kkeunheo!"
Aku langsung memutus sambungan telepon dari si Rap Monster itu. Semua anggota komite siswa Cheongdam High School memanggilnya dengan sebutan Rap Monster, karena dia sering berbicara terlalu cepat seperti Rapper, dan dia suka memasang ekspresi wajah seperti Monster. Dulu saat sekolah menengah pertama, aku juga bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Dan sekarang kami bertemu lagi di Cheongdam High School. Hyemin dan Jimin sering menggodaku karena hal itu. Kata mereka, aku dan Namjoon tercipta untuk bersama. Yang benar saja. Aku tak pernah sedikitpun menyukainya, begitupun Namjoon. Kudengar, dia sudah memiliki kekasih, dan kekasihnya adalah siswi tahun ketiga di Cheongdam, namanya Jung Yoonji.
Ponselku bergetar, lalu aku melihatnya. "1 New Message from Kim Namjoon" Aku membuka pesan itu.
"010-3**8-9**1 Itu nomor ponselnya. Namanya Min Yoongi, dia ketua pertukaran siswa, dan dia murid tahun ketiga. Usianya lebih tua setahun darimu, dan dia setingkat diatasmu, jangan lupa panggil dia sunbae."
Aku mendengus sejenak, lalu membalasnya.
"Iya, aku mengerti, Tuan Rap Monster. Cerewet sekali kau ini. Aku bukan gadis yang bodoh!"
Tak ingin berlama-lama, aku segera menghubungi ketua program pertukaran siswa bernama Min Yoongi itu.
"Yeoboseyo?"
"Yeoboseyo. Apa benar ini Min Yoongi sunbae, ketua program pertukaran siswa Daegu High School?"
"Ah, ne. Aku Min Yoongi. Kau siapa?"
"Ah, perkenalkan. Namaku Song Hyojin, sunbae. Aku adalah perwakilan dari komite siswa Cheongdam High School."
"Ah, ne. Ada apa, Hyojin-ssi?"
"Begini, sunbae. Aku dikirim oleh ketua komite siswa Cheongdam High School, Kim Namjoon, untuk menjemput siswa-siswi Daegu High School di Seoul Metro Station. Boleh aku bertanya dimana sunbae dan teman-teman sunbae sekarang?"
"Sebentar lagi kami akan tiba di Seoul Metro Station, Hyojin-ssi. Maaf merepotkanmu."
"Ah, tidak kok, sunbae. Sama sekali tidak merepotkan. Ini adalah tugas wakil ketua seksi lapangan komite siswa Cheongdam High School."
"Baiklah. Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Hyojin-ssi. Nanti akan kuhubungi lagi."
"Ne. Gamsahamnida, sunbae."
"Ne."
Sunbae bernama Yoongi itu memutus sambungan teleponnya. Ternyata dia laki-laki, tapi suaranya manis juga. Aku tertawa kecil dan tiba-tiba perutku berbunyi. Aku memang tidak sempat sarapan tadi dan akhirnya aku teringat kalau eomma tadi membawakan aku bekal. Aku mengeluarkannya dari tas, lalu membuka kotak bekalku, dan memakan kimbap buatan eommaku yang paling enak sedunia.
Baru saja aku menelan potongan kimbap terakhirku, ponselku kembali berdering. Aku segera mengambil ponselnya, lalu menjawab panggilan itu.
"Yeoboseyo?"
"Yeoboseyo, Hyojin-ssi."
"Ah, ne, Yoongi sunbae. Ada apa?"
"Kami sudah sampai di Seoul Metro Station."
"Baiklah, sunbae. Tunggulah sebentar disana, aku akan menghampirimu."
"Kami memakai seragam putih dan hitam, Hyojin-ssi."
"Ne, sunbae. Tunggu sebentar."
Aku menjepit ponselku diantara telinga dan bahuku, lalu aku membereskan kotak bekalku, dan minum air minum sedikit. Setelahnya, aku berdiri dan membawa tasku, lalu mencari mereka. Aku mengerutkan dahi melihat sekelompok orang yang berada tak jauh dariku dan memakai seragam putih dan hitam. Seseorang diantaranya seperti sedang dalam percakapan telepon.
"Sunbae, cobalah menoleh ke arah kananmu," pintaku untuk memastikan. Sosok yang tadi kulihat kemudian berbalik. Aku tersenyum, lalu melambaikan tanganku kearah sosok itu, dan sosok itu melambaikan tangan juga. Aku memutuskan sambungan telepon, lalu berlari mendekati sekelompok orang itu.
"Jadi kau Song Hyojin?" tanya sosok tadi. Aku menatap sosok tadi, kemudian tersenyum lalu mengangguk.
"Ne. Kau Min Yoongi sunbae?"
"Iya. Perkenalkan, aku Min Yoongi. Ketua program pertukaran siswa-siswi Daegu High School," ujar Yoongi, lalu membungkuk padaku.
"Ne. Perkenalkan, aku Song Hyojin. Wakil ketua bagian lapangan komite siswa Cheongdam High School." Aku membungkuk pada Yoongi sunbae.
Yoongi sunbae kemudian memperkenalkan kesembilan temannya padaku. Sambil memperkenalkan diriku, aku bersalaman dengan kesepuluh siswa-siswi Daegu High School itu. Aku tersenyum manis, kemudian menatap sejenak Yoongi sunbae yang sedang tersenyum. "Yoongi sunbae ramah sekali dan senyumnya manis," batinku.
"Mari, kuantarkan kalian ke Cheongdam High School."
Aku mempersilakan Yoongi sunbae dan teman-temannya untuk berjalan mengikutiku kearah mobil yang disediakan Cheongdam High School. Sepanjang perjalanan aku banyak menjelaskan tentang sekolahku, juga daerah di sekitar sekolahku. Tak lupa aku juga menjelaskan sekelumit tentang Seoul. Aku banyak berbicara dengan Yoongi sunbae. Yoongi sunbae adalah orang yang menyenangkan dan sering tersenyum. Senyumnya manis sekali.
"Ah, apa yang kupikirkan?" batinku. Jantungku rasanya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ada apa ini? Aku menghela napas, lalu tersenyum pada mereka semua.
=========================
Ini sudah seminggu sejak kedatangan siswa-siswi dari Daegu High School ke Cheongdam High School. Mereka akan berada disini selama tiga bulan. Dan jujur, selama seminggu ini, setiap aku berada di dekat Yoongi sunbae, detak jantungku selalu berdegup kencang. Aku masih tidak mengerti tentang hal ini. Aku harus menceritakan hal ini pada Hyemin.
"Yoon Hyemin, temui aku di perpustakaan saat istirahat nanti." Aku mengirimkan pesan singkat pada Hyemin, lalu kembali berkutat dengan buku sejarahku. Aku, Hyemin, juga Jimin berada di kelas yang berbeda. Tapi saat jam istirahat, kami akan selalu berkumpul bersama di perpustakaan atau di kantin. Kami memang bersahabat sejak sekolah menengah pertama.
Kring!
Bel istirahatpun berbunyi. Aku membereskan bukuku, mengambil ponselku, lalu berjalan keluar kelas, saat Min seonsaengnim keluar dari kelas. Saat aku berjalan menuju perpustakaan, aku tidak sengaja bertemu dengan Shin Jinyoung. Dia sama denganku, siswi tingkat kedua, tapi umurnya satu tahun lebih tua dariku, dan aku sangat akrab dengannya. Dia sudah kuanggap seperti kakak perempuanku sendiri.
"Jinyoung eonni," sapaku.
"Hyojin-ya!" serunya sambil berjalan mendekatiku, kemudian memelukku. Aku ikut memeluknya sejenak, lalu melepaskannya.
"Kau mau kemana, Hyojin-ya?"
"Aku mau ke perpustakaan, eonni. Seperti biasa, menemui Hyemin. Ada yang ingin kuceritakan padanya."
"Ah, kau tidak ingin memceritakannya padaku?"
"Bukan begitu, eonni-ya. Suatu saat akan kuceritakan, tapi tidak sekarang."
"Benarkah? Baiklah. Kau tidak ke kantin?"
"Tidak, eonni. Mungkin nanti saja."
"Kalau begitu, aku ke kantin dulu, ya."
"Ne. Hati-hati, eonni."
Jinyoung eonni melangkah sambil melambaikan tangan padaku dan aku langsung berlari kecil ke perpustakaan. Sesampainya di perpustakaan, aku mencari novel kesukaanku, lalu langsung duduk ditempat yang biasa aku tempati dengan Hyemin dan Jimin. "Aish! Hyemin terlambat lagi," ujarku sambil mengerucutkan bibirku, lalu mulai membaca novel yang tadi kuambil.
"Kau suka membaca novel juga?" tanya seseorang. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat seseorang yang bertanya padaku tadi. Aku sedikit terhenyak dan jantungku berdegup cepat lagi.
"S..ss..sunbae." Kenapa aku jadi tergagap begini?
"Boleh aku duduk?"
"T..t..tentu, sunbae. Silakan."
Seseorang tadi duduk dihadapanku. Siapa lagi kalau bukan Yoongi sunbae. "Kenapa aku jadi gugup?" batinku.
"Jadi kau suka membaca novel?"
"Ne, sunbae."
"Kau suka membaca novel apa?"
"Apa saja, sunbae. Apalagi yang menurutku jalan ceritanya menarik."
"Contohnya?"
"Mm.. Aku sangat suka novel Twilight Saga, sunbae."
"Ah, Twilight Saga, ya? Kau suka filmnya?"
"Ne. Bahkan aku tidak sabar menunggu penayangan Breaking Dawn II bulan depan."
"Aku juga. Bagaimana kalau kita menonton Breaking Dawn II bersama-sama?"
Deg!
Jantungku kembali berdegup cepat.
"Ee.. Tentu saja, sunbae." Kenapa aku mengiyakannya begitu saja.
"Baiklah. Maaf aku jadi mengganggumu. Habisnya, di perpustakaan ini, hanya kau siswa yang kukenal."
"Tenang saja, sunbae. Sunbae kan baru seminggu disini, sebentar lagi sunbae pasti akan mendapat banyak teman."
"Ne. Semoga saja."
Setelah itu, kami banyak mengobrol, bercerita satu sama lain, sampai bel masuk kelas berbunyi.
"Aku kembali ke kelas dulu, ya?"
"Ne, sunbae. Aku juga akan kembali ke kelas."
"Berhati-hatilah. Sampai jumpa lagi."
"Ne, sunbae. Kau juga berhati-hatilah."
Aku membungkuk padanya, lalu ia juga membungkuk padaku, dan berjalan menjauh. Aku memutuskan meminjam novel yang tadi kubaca. Astaga! Aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Hyemin. Tapi kenapa dia tidak muncul juga? Awas kau, Yoon Hyemin!!
=========================
Sepulang sekolah, aku berlari kecil ke kelas Hyemin. Aku melihatnya sedang membereskan buku-bukunya, untungnya sudah tidak ada guru lagi di kelas itu. Saat aku akan berjalan ke kelas Hyemin, tidak sengaja aku menabrak seorang siswa yang setingkat di bawahku -aku tahu karena terlihat dari badge di lengan kanannya- sampai aku terjatuh. "Ah!" erangku.
Siswa itu membantuku berdiri. "Kau tak apa, sunbae?" tanyanya. "Ah tak apa. Maaf, aku berjalan tanpa melihat di depanku," jawabku, lalu membungkuk pada siswa itu. "Aku juga minta maaf, membuatmu terjatuh, sunbae." Ia membungkuk, lalu melangkah pergi. Aku hanya menatap punggungnya yang menjauh, lalu mengerutkan dahi.
"Ya, Song Hyojin! Apa yang kau lakukan disana?" tanya Hyemin. Aku menoleh kearah Hyemin, lalu berjalan mendekat kearahnya. "Aku tadi tidak sengaja menabrak seorang hoobae. Dan, ya! Aku sudah menunggumu di perpustakaan tadi, tapi kenapa kau tidak datang juga?!"
Hyemin mengeluarkan cengiran khasnya. "Aku tadi tertidur di kelas, bahkan aku tidak tahu kau mengirimiku pesan," jawabnya, polos. Aku memutar bola mataku, lalu duduk disampingnya.
"Hyemin-ya, aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Jantungku belakangan ini sering berdegup cepat, saat aku bertemu dengan seseorang. Dan saat aku berbicara dengannya, aku jadi tergagap. Tapi aku merasa nyaman saat dia di dekatku."
Hyemin menatapku antusias. "Siapa yang kau maksud? Seokjin sunbae? Namjoon? Atau... Jimin?" Aku menjitak kepalanya. "Aw!" pekiknya. "Kau ini bodoh atau apa?! Bukan mereka. Tapi seseorang yang lain. Hyemin-ya, perasaan apa ini namanya?" Aku menghela napas.
"Kau sedang jatuh cinta, Song Hyojin."
=========================
Sudah sebulan berlalu, sejak aku bercerita pada Hyemin waktu itu, dan aku masih berulang kali memikirkan hal itu. Jatuh cinta? Beginikah rasanya? Aku memang jadi sering senyum-senyum sendiri membayangkan Yoongi sunbae. Dia orangnya memang baik dan perhatian.
Belum lagi setelah aku bercerita pada Hyemin waktu itu, Jimin mengirimiku pesan. "Wah, ada yang sedang jatuh cinta rupanya." Park Jimin, dia menyindirku. Awas saja kau, Park Jimiinn!
Tak jarang saat mendekati waktu makan malam, dia mengirimiku pesan agar aku tidak lupa makan malam. Dan pesan itu pasti akan berlanjut dengan candaan, atau kadang kami membahas film atau novel atau musik dan penyanyi favorit kami masing-masing. Setelah mendekati jam tidur, dia pasti akan menyuruhku segera tidur agar aku tidak terlambat ke sekolah. Yang jelas satu, Yoongi sunbae adalah orang yang menyenangkan.
Hari ini, komite siswa Cheongdam High School, termasuk aku, disibukkan dengan acara pentas seni. Yang jelas sibuk adalah aku, Hoseok sebagai ketua bagian lapangan, Namjoon sebagai ketua komite, dan Jinyoung eonni sebagai wakil ketua komite. Kami berempat sibuk mengatur bagian penataan panggung dan sebagainya.
Sialnya, hari ini adalah pemutaran perdana "Breaking Dawn II" di bioskop. Biasanya, setiap pemutaran perdana film Twilight Saga, aku selalu menontonnya. Seakan tidak ingin ketinggalan, apalagi ini adalah seri terakhir film itu. Tapi sayang sekali hari ini aku sangat sibuk.
Acara pentas seni berjalan dengan baik, tak ada keributan, dan berakhir dengan baik pula. Lagi-lagi kami berempat sibuk dengan pengaturan kembali lapangan basket yang digunakan. Walaupun yang mengerjakan adalah orang lain, tapi kami berempat adalah penanggung jawab acara.
Setelah acara dan pengaturan benar-benar selesai, aku mengambil tasku. "Hari sudah sore. Apa masih cukup waktunya jika aku ke bioskop untuk menonton Breaking Dawn II? Sepertinya tidak mungkin," batinku, lalu menghela napas. Aku mendekati Jinyoung eonni, Hoseok, dan Namjoon.
"Jinyoung eonni, Hoseok-a, Namjoon-a aku pamit pulang dulu, ya."
"Oh, arrasseo, Hyojin-ya. Kau sudah bekerja keras hari ini," ujar Jinyoung eonni.
"Terima kasih atas bantuanmu, wakilku. Hahaha.. Kalau tidak ada kau, aku bisa mati berlari kesana kemari sendirian," sahut Hoseok.
"Istirahatlah yang cukup, Hyojin-a. Toh, besok kita libur kan?" saran Namjoon.
"Tentu saja, Namjoon-a, Hoseok-a Aku akan memeluk bantal dan guling kesayanganku sepuasnya," jawabku sambil tertawa. Mereka berempat ikut tertawa.
"Baiklah. Aku pulang dulu. Annyeonghigyeseyo," pamitku, lalu membungkuk pada mereka bertiga, dan melangkah pergi. Ingin rasanya aku segera pulang, memakan masakan eomma, lalu menjadi Sleeping Princess. Aku tertawa kecil.
Ketika sampai di gerbang sekolah, aku terkejut mendapati seseorang disana. Dan dia tersenyum saat melihatku. "S..s..sunbae?" tanyaku. "Annyeong, Hyojin-a. Sudah selesai urusannya?" Aku hanya mengangguk, sambil berjalan mendekatinya. Yoongi sunbae. Siapa lagi. "S..sunbae menungguku?" Ia mengangguk. "Mimpi apa aku semalam?" batinku.
Ia tersenyum, lalu merogoh sesuatu di saku jaketnya, kemudian ia mengacungkan dua helai kertas, dan melambaikannya. "Kau pasti tidak ingin ketinggalan premiere "Breaking Dawn II", kan? Ayo kita menonton bersama." Itu tiket bioskop! Dan... Yoongi sunbae membelikannya untukku? Kurasa pipiku sedikit menghangat.
"Kenapa, Hyojin-a? Kau sakit?" Aku menatapnya, lalu dengan cepat menggeleng.
"Jadi kau mau, kan?"
"Ne, sunbae."
"Kalau begitu, kajja. Nanti kita ketinggalan bus."
Aku mengangguk. Yoongi sunbae menarik tanganku, laku mengajakku berlari ke halte bus yang terdekat dari Cheongdam High School. Ia tertawa, akupun ikut tertawa. Saat menunggu di halte bus, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Kami memang bisa berteduh di halte bus itu, tapi sialnya, aku tidak membawa jaket.
Aku menggosok-gosokkan tanganku agar tidak kedinginan. Tiba-tiba aku merasa seseorang memakaikanku jaket dari belakang. Aku menoleh, melihat seseorang yang memakaikanku jaket ternyata adalah Yoongi sunbae. Aku menatapnya untuk beberapa saat dan jantungku terasa berdegup cepat lagi.
Baru saja aku akan mengucapkan terima kasih padanya, bus yang kami tunggu berhenti di depan kami. Yoongi sunbae langsung menarik lenganku, lalu berlari dan masuk ke dalam bus. Untungnya bus tidak terlalu penuh. Kemudian aku duduk di satu kursi dan Yoongi sunbae duduk disampingku.
"Sunbae, ini jaketmu."
"Ah, tidak usah. Pakai saja dulu. Kau lebih membutuhkannya."
"Tapi kau bisa kedinginan, sunbae."
"Aku tidak apa-apa. Toh, pakaianku kan berlengan panjang. Pakai saja."
"T..t..terima kasih, sunbae," ujarku sambil tersenyum.
Sesampainya di bioskop, aku melihat jam penayangannya. Ah, masih sekitar setengah jam lagi filmnya di putar. "Hyojin-a, ayo kita beli makanan dulu untuk nanti saat filmnya diputar," ajak Yoongi sunbae. Aku mengangguk, lalu berjalan ke kafetaria di bioskop itu dengan Yoongi sunbae.
"Silakan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya pelayannya dengan ramah.
"Kentang goreng dengan saus keju dan mayonnaise. Minumnya, aku pesan milkshake strawberry saja," ujarku. Itu adalah menu favoritku.
"Aku pesan hotdog dengan saus pedas dan milkshake coklat," ujar Yoongi sunbae.
"Semuanya lima puluh ribu won."
Aku baru akan mengambil dompetku di tas, ketika Yoongi sunbae menahanku. "Aku saja." "Ah, tidak usah, sunbae. Aku bisa membayar milikku sendiri." Yoongi sunbae menyerahkan lima lembar uang sepuluh ribu won pada pelayan tadi. Aku merasa tidak enak pada Yoongi sunbae.
"Aku jadi merepotkanmu, sunbae."
"Ah, tidak. Akulah yang mengajakmu, jadi aku yang bertanggung jawab membelikannya."
Aku tersenyum. "Terima kasih banyak, sunbae."
Aku dan Yoongi sunbae mengambil pesanan kami, lalu berjalan masuk ke ruang bioskopnya.
=========================
Hampir tiga bulan terakhir, aku semakin akrab dengan Yoongi sunbae. Setiap di dekatnya aku selalu merasa nyaman. Yoongi sunbae juga sudah akrab dengan teman-teman sekelasnya. Dia jago basket, sama seperti Seokjin sunbae. Sayangnya, lusa, dia dan teman-temannya sudah harus kembali ke Daegu. Aku belum bisa meyakinkan diri untuk mengutarakan perasaanku padanya.
Iya, kurasa aku memang mencintai Yoongi sunbae. Rasanya berbeda, antara mengagumi, menyukai dan mencintai. Mungkin aku memang mengagumi dan menyukai Seokjin sunbae. Aku juga akrab dengan Seokjin sunbae, tapi aku hanya menganggapnya sebagai idolaku atau kakakku. Tapi aku yakin, kalau aku mencintai Yoongi sunbae. Hyemin dan Jimin membenarkan itu, saat kami berjalan-jalan di mall, akhir pekan kemarin. Jimin kebetulan pulang ke Seoul sebentar, jadi kami bertiga memutuskan untuk bertemu.
Ponselku bergetar. Ada pesan singkat masuk. "Oh, Yoongi sunbae," gumamku. Aku membukanya, lalu membacanya.
"Hyojin-a, bisa kita bertemu di perpustakaan sepulang sekolah nanti? Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu."
Aku segera membalasnya.
"Tentu, sunbae."
Jantungku kembali berdegup cepat lagi, lalu aku tersenyum. Aku jadi tidak sabar menunggu bel pulang sekolah berbunyi.
=========================
Kriinnngg!!
Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Setelah Jung seonsaengnim meninggalkan kelas, aku segera membereskan bukuku, lalu keluar kelas, dan akan berlari kecil ke perpustakaan, ketika seseorang menabrakku. Aku hampir saja terjatuh, tapi seperti ada yang menahanku. Seseorang yang menabrakku tadi rupanya menahanku agar aku tidak terjatuh.
"Maaf, aku tidak sengaja," ujarnya. "Ah, tidak apa." Aku segera berdiri, membungkuk padanya, lalu berlari kecil ke perpustakaan. Aku kebingungan mencari sosok Yoongi sunbae di perpustakaan. Aku mendekat ke arah rak buku yang terletak di sudut ruangan. Gotcha! Yoongi sunbae ada disana dan ia tersenyum melihatku. Aku tersenyum juga melihatnya.
"Ada apa, sunbae?" tanyaku.
"Lusa aku akan kembali ke Daegu. Dan sebelum aku kembali, aku ingin memberikan sesuatu padamu."
"Ne?"
Yoongi sunbae memberikan sesuatu yang dibungkus oleh kertas kado berwarna biru langit, warna kesukaanku. Aku menerimanya. "Apa ini, sunbae?" "Jangan dibuka disini. Bukalah nanti saat kau sudah di rumah," ujarnya sambil tersenyum. Aku ikut tersenyum melihat senyum Yoongi sunbae. Sebentar lagi, aku tidak akan melihat senyum semanis ini lagi, setiap hari.
"Terima kasih, Hyojin-a. Karena kau, aku mempunyai banyak teman disini."
"Itu bukan karena aku, sunbae. Kau yang berusaha sendiri mendekati mereka."
"Tapi tanpa kau, aku tidak akan bisa terbuka pada mereka."
Aku tersenyum, "Ne, sunbae. Aku senang bisa membantumu." Yoongi sunbae tersenyum.
"Aku pulang dulu ya. Sampai bertemu besok."
"Hati-hati, sunbae."
=========================
Sesampainya di rumah, aku bergegas membersihkan diri, lalu makan malam sendiri. Eomma sedang bertugas di luar kota, itulah kenapa aku sendirian dirumah hari ini. Setelah makan malam dan membereskan piringnya, aku berlari ke kamarku dan duduk diranjang kesayanganku.
Aku membuka hadiah pemberian Yoongi sunbae tadi. Dengan hati-hati, aku buka kertas kadonya agar tidak robek. Setelah kertas kado itu terbuka, aku terkejut melihat apa yang ada di dalamnya. Sebuah kotak musik berwarna biru langit. Aku membukanya perlahan. Terdapat sebuah gelang yang sangat cantik di dalamnya.
Aku mendekatkan telingaku ke kotak musik itu. Sebuah musik mengalun indah dari kotak itu. Lagu favoritku, “First Love” milik Utada Hikaru. Nadanya begitu menenangkan dan membuatku tersenyum. Aku mendengar lagu itu sambil melihat gelang pemberian Yoongi sunbae. Perlakuannya sangat manis bukan? Aku jadi semakin mencintainya.
Aku mendengarkan alunan musiknya sampai habis. Tiba-tiba aku berpikir, bagaimana cara untuk membalas pemberian Yoongi sunbae ini. Apa tidak apa-apa jika aku memberikannya bekal makan siang esok? Aku meraih ponselku, lalu menulis pesan untuk Hyemin.
“Hyemin-a, apa menurutmu tak apa jika aku memberikan bekal makan siang besok untuk Yoongi sunbae?”
Sambil menunggu balasan dari Hyemin, aku kembali melihat gelang itu. Tak lama, ponselku bergetar. Aku membukanya, lalu membacanya.
“Ya! Tentu saja tidak apa-apa. Apa dia memberikanmu sesuatu?”
“Iya. Dia memberiku sebuah kotak musik dan sebuah gelang.”
Lama, ponselku tidak bergetar. “Pasti dia tertidur lagi,” batinku. Aku kembali mendengarkan kotak musik itu, ketika ponselku bergetar. Aku mengambilnya, membukanya, dan membacanya.
“YA!! Kurasa Yoongi sunbae juga menyukaimu! Nyatanya dia memberikanmu kotak musik dan gelang. Wah, kau beruntung sekali, Song Hyojin.”
“Kau ini. Itu belum tentu benar, walaupun aku berharap begitu. Ya sudah, aku tidur dulu.”
“Baiklah. Selamat memimpikan Yoongi sunbae!”
“YA! YOON HYEMIN!!”
“YA! YOON HYEMIN!!”
Setelah mengirim pesan pada Hyemin, aku iseng mengambil biolaku. Lalu memainkan “First Love” dengan biola.
=========================
Aku sengaja bangun pagi sekali, untuk membuatkan bekal untuk Yoongi sunbae. Aku bahkan menghias nasinya, dengan membayangkan wajah Yoongi sunbae, yang murah senyum. Hasilnya bagus juga, lumayan mirip dengan wajah Yoongi sunbae. Aku tersenyum, lalu merapikan kotak bekal itu, dan menyiapkannya di meja makan. Aku segera bersiap untuk ke sekolah dan tidak lupa membawa kotak bekal yang kusiapkan untuk Yoongi sunbae tadi. Aku juga memakai gelang pemberian Yoongi sunbae.
Entah karena ingin segera menemui Yoongi sunbae atau pelajaran hari ini memang membosankan, jam pelajaran terasa lama bagiku. Berulang kali aku menghela napas panjang. Aku sengaja tidak berjanji untuk bertemu dengan Yoongi sunbae, supaya ini jadi kejutan. Aku meunlis rumus-rumus fisika yang dicatat Kim seonsaengnim dengan malas.
Kring!
Akhirnya! Bel pulang sekolah berbunyi. Aku bersikap seolah tidak sedang terburu-buru. Tapi begitu aku lihat Kim seonsaengnim keluar kelas dan menjauh, aku langsung merapikan bukuku, lalu berlari keluar kelas sambil membawa kotak bekal, menuju ke kelas Yoongi sunbae yang tampaknya sudah sepi. Kim seonsaengnim sih, tadi terlalu lama berceramah, padahal bel pulang sekolah sudah berbunyi dua puluh menit yang lalu. Bagaimana kalu Yoongi sunbae sudah pulang? Ah, Song Hyojin. Kau bodoh sekali. Harusnya tadi kau meminta Yoongi sunbae untuk bertemu sebentar.
Aku melangkahkan kakiku perlahan kearah kelas Yoongi sunbae, lalu sedikit mengintip dari jendela kelas itu, dan pemandangan menyakitkanlah yang kudapatkan. Yoongi sunbae sedang.. berciuman. Ketika aku berusaha melihat siapa sosok wanita yang dicium oleh Yoongi sunbae, aku makin terkejut. Dia… Jinyoung eonni. Aku membalikkan badanku, lalu menggenggam erat tas kecil yang berisi kotak bekal itu.
Tanpa terasa, airmataku mengalir begitu saja di pipiku. Jadi, mereka punya hubungan spesial? Aku tidak menyalahkan itu. Kelas Yoongi sunbae dan Jinyoung eonni berdekatan, tentu saja mereka jadi lebih akrab. Aku meletakkan kotak bekal itu di kursi panjang di depan kelas Yoongi sunbae, lalu aku berlari meninggalkan kelas mereka, sambil mengusap airmataku yang terus menerus mengalir.
=========================
Percaya atau tidak, aku bahkan tidak ingin masuk ke sekolah hari ini, untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal pada Yoongi sunbae dan kesembilan siswa Daegu High School yang lain. Hatiku masih terlalu sakit mengingat apa yang kulihat kemarin. Untungnya eomma masih belum pulang dari Busan. Kalau tidak eomma pasti akan bertanya yang macam-macam padaku.
Aku duduk di tepi jendela rumahku, sambil menatap nanar keluar jendela. Aku menatap kotak musik yang kupegang, lalu kubuka kotak musik itu. Lagu itu mengalun lagi dan airmataku kembali mengalir. Jadi beginikah cerita cinta pertamaku? Menyedihkan. Aku mengacuhkan semua panggilan atau pesan yang masuk di ponselku. Setelah membersihkan diri tadi, aku hanya duduk di tepi jendela, bersandar di bingkai jendela, sambil mendengarkan musik yang mengalun dari kotak musik itu. Aku menatap gelang di lengan kananku, lalu melepasnya perlahan, dan kembali kuletakkan kembali di kotak musik itu. Kubiarkan kotak musik itu tetap terbuka dan mengalunkan musik.
Satu jam kemudian, aku mendengar ada yang mengetuk pintu rumahku. Aku segera berdiri, lalu menghapus airmataku, kemudian berlari untuk membuka pintu rumahku. Aku terkejut mendapati Hyemin, Jimin, dan.. Yoongi sunbae juga Jinyoung eonni.
“Hyojin-aa!” teriak Hyemin, lalu memelukku erat. Aku bingung lalu memeluk Hyemin.
"Kau ini kemana saja? Kami menunggumu, Hyojin-a," ujar Jinyoung eonni.
"Kau baik-baik saja, dongsaengie?" tanya Yoongi sunbae.
"A..aku baik-baik saja. Kalian terlalu berlebihan mengkhawatirkanku. Aku hanya sedikit tidak enak badan," jawabku, sambil berusaha tersenyum.
"Tega sekali kau tidak menyambutku. Mentang-mentang kau sudah akrab dengan cinta pertamamu, lalu kau mengacuhkan aku dan Hyemin," seloroh Jimin, membuatku bersusah payah menelan ludah, dan kembali memaksakan senyumku. Hyemin terlihat memukul lengan Jimin.
"Dongsaeng-a, hari ini aku akan kembali ke Daegu. Jaga baik-baik hadiah dariku, ya," ujar Yoongi sunbae.
"Ah, ne. Hati-hati, sunbae. Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu. Aku sedang tidak enak badan."
"Kau sendirian di rumah? Kemana eommamu?"
"Dia sedang bertugas di Busan sampai minggu depan, eonni."
Tidak bisakah kalian semua segera pergi dari hadapanku? Aku sedang ingin sendiri saat ini.
=========================
Ini sudah sebulan sejak kepulangan Yoongi sunbae ke Daegu. Sejak saat itu, aku tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya. Dan hubunganku dengan Jinyoung eonni tidak seakrab dulu. Paling-paling aku hanya menyapanya sekilas, lalu segera menjauh. Aku juga jarang mengirimkan pesan singkat masalah pribadi pada Jinyoung eonni. Kalaupun ada, pasti menyangkut urusan komite siswa.
Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru, setelah minggu kemarin aku sibuk mengurus masa orientasi siswa siswi baru. Dan aku sama sekali tidak menjumpai Jinyoung eonni. Terang saja, Namjoon murka dengan ulah wakilnya itu. Tidak hadir tanpa memberi alasan. Walaupun aku sendiri sedang banyak pikiran, aku tidak mau melewatkan kesempatan untuk akrab dengan hoobae-hoobaeku.
Dari masa orientasi kemarin, memang akulah yang paling akrab dengan hoobae-hoobaeku. Di hari terakhir masa orientasi, aku mendapat banyak bunga mawar berwarna merah muda, sebagai tanda kalau aku sunbae favorit mereka. Sudah dua kali masa orientasi yang kuiikuti, aku jadi sunbae terfavorit diantara para anggota komite siswa.
Aku juga meraih nilai tertinggi di sekolah, saat ujian kenaikan kelas, sebelum masa orientasi bulan lalu, membuat Namjoon, Hoseok, Hyemin, dan Jimin menyorakiku. Aku hanya tertawa dan aku mentraktir mereka makan di kedai makanan tradisional khas korea dan jepang di samping sekolah.
Saat ini, aku berjalan menuju kelas baruku di lantai dua. Aku sudah menjadi siswi tahun ketiga. Aku tertawa kecil mengingatnya. Saat aku sampai di depan kelasku, seseorang menarik tanganku. Aku terkejut dan menoleh. "Ya! Yoon Hyemin! Kau mengagetkanku saja!" pekikku. "Ikut aku," ujarnya lalu menarik tanganku ke arah perpustakaan yang tidak jauh dari kelasku.
"Ada apa sih?" tanyaku saat sampai di perpustakaan.
"Kau dengar beritanya tidak?"
"Berita apa?"
"Jinyoung eonni dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah."
"Mwo? Memang kenapa? Dia salah apa?"
"Dia sedang hamil sekarang dan dia belum menikah," bisiknya.
Aku bagaikan tersambar petir tanpa datangnya hujan di siang hari. "Apa katamu?"
"Iya. Dia hamil diluar nikah."
"Lalu?"
"Mana ku tahu. Yang jelas dia sudah dikeluarkan. Untung saja kau tidak jadi berhubungan dengan Yoongi sunbae. Kalau iya, bisa-bisa kau hamil sekarang."
"Tutup mulutmu. Belum tentu Yoongi sunbae yang melakukannya," belaku.
"Lalu siapa lagi pelakunya?"
"Kalaupun pelakunya Yoongi sunbae, jika aku benar ada status hubungan dengannya, aku tidak akan semurah itu, untuk memberikan keperawananku padanya. Sudahlah. Aku kembali dulu ke kelas."
"Baiklah. Sampai bertemu nanti."
=========================
Jinyoung eonni? Hamil diluar nikah? Dan pelakunya... Yoongi sunbae? Sampai sejauh itukah cinta buta mereka, hingga mereka hanya memikirkan kesenangan sesaat, dan melupakan masa depan mereka? Bagaimana dengan keluarga mereka? Aku tidak percaya mereka berpikiran sempit seperti itu. Aku menatap kotak musik pemberian Yoongi sunbae. "Aku tidak percaya kau bisa melakukan hal itu, sunbae. Sebrengsek itukah kau, sunbae?" desahku, gelisah. Aku menggigit bibir bawahku getir. Kenapa semua terasa rumit dan menyakitkan seperti ini?
Aku melempar pelan ponselku di meja belajarku. Aku sangat ingin tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, tapi aku tidak mau jika harus berurusan dengan mereka lagi. Aku menghela napas, lalu belajar lagi.
=========================
Keesokan sorenya, aku duduk dengan eommaku di ruang keluarga, menonton TV. Kami menonton drama kesukaan kami, Boys Over Flowers yang ditayangkan ulang di TV. Saat adegan sedih, aku dan eomma dengan polosnya berebut tissue di kotak tissue. Saat ibu dari karakter bernama Joon Pyo muncul, aku dan eomma sama-sama melempar bantal sofa kearah TV. Untungnya TV kami tidak jatuh atau rusak.
Ji Hoo : “Aku sudah belajar darimu, bagaimana caranya merelakan Min Seohyun, cinta pertamaku.”
Jan Di : “Aku sudah belajar dari Min Seohyun…”
Ji Hoo : /tertidur di bahu Jan Di/
Ji Hoo : /tertidur di bahu Jan Di/
Jan Di : /tersenyum/ “Kurasa, aku sudah belajar dari Min Seohyun, bagaimana caranya merelakanmu. Cinta pertamaku.”
Aku terhenyak dan terdiam sesaat setelah mendengar percakapan mereka. Hatiku seperti tertusuk benda tajam yang sudah pasti sangat menyakitkan. Aku mendadak teringat akan Yoongi sunbae dan Jinyoung eonni.
Tok! Tok! Tok!
Aku dan eomma menoleh bersamaan kearah pintu masuk. “Biar eomma yang bukakan pintunya,” ujar eomma, lalu berjalan dan membuka pintu masuk. Aku hanya melihat punggung eomma dengan wajah penasaran. Tak lama, eomma kembali dan membawa sesuatu seperti surat di tangannya.
“Apa itu, eomma?” tanyaku.
“Undangan pernikahan.”
“Eoh? Dari teman eomma? Anak teman eomma yang mana lagi yang sudah akan menikah?” desahku, sambil membuang muka.
“Bukan untuk eomma.”
“Lalu?” tanyaku sambil menatap eomma terkejut.
“Untukmu.”
“Untukku?” Aku terperangah, lalu mengambil undangan itu dari tangan eomma dan membukanya.
Min Yoongi & Shin Jinyoung
20 Februari 2013
Riviera Hotel, Gangnam
17.00 KST
Aku menutup undangan itu, lalu menghela napas panjang. “Ada apa, Hyojin-nie?” “Aniya, eomma. Ini undangan dari sunbaeku,” jawabku. “Lihat, temanmu sudah ada yang menikah. Kapan kau akan menikah?” goda eomma. Aku tercengang. “Eomma! Aku masih berusia delapan belas tahun dan aku baru kelas tiga SMA.” Eommaku tertawa.
Begitulah eomma. Sejak berpisah dengan appa, eomma selalu menyuruhku untuk cepat menikah. Ingin segera menimang cucu katanya. Yang benar saja. Aku memutar bola mataku, lalu berjalan ke kamar.
=========================
Aku memilih gaun yang akan kukenakan saat menghadiri pernikahan Yoongi sunbae dan Jinyoung eonni. Aku memilih dress selutut dengan lengan pendek berwarna biru langit, lalu memilih high heels setinggi lima sentimeter berwarna putih.
Setelah mempersiapkan semua, aku beranjak mengambil tas dan jaketku, lalu pergi ke toko hadiah di daerah dekat rumahku. Walau sebenarnya hatiku sungguh sakit, tapi aku memutuskan untuk tetap datang ke pernikahan Yoongi sunbae dan Jinyoung eonni. Aku tidak ingin dicap sebagai orang yang jahat karena telah diundang namun tidak datang. Aku membelikan sepasang jam tangan dan aku meminta agar kedua jam tangan itu dibungkus dengan baik.
Setelah selesai membeli hadiah untuk mereka, aku pulang, dan segera membersihkan diri. Seusai membersihkan diri, aku mengeringkan rambutku, dan mengenakan dress juga sepatu yang telah kupilih tadi. Kemudian, aku merias diri, dan memilih untuk menguncir rambut panjangku, lalu menekuknya sedemikian rupa, juga menghias rambutku dengan jepit berwarna putih. Biarlah. Setidaknya aku ingin tampak cantik untuk terakhir kalinya dihadapan Yoongi sunbae, meski baginya hanya Jinyoung eonni lah yang paling cantik.
Setelah kurasa cukup, aku mengambil tas tangan berwarna biru langit dan jaket tanpa lengan berwarna putih dengan bulu disekitar lehernya. Tak lupa aku membawa hadiah untuk Yoongi sunbae dan Jinyoung eonni. Aku berjalan keluar kamar dan melihat eomma menatapku dengan tatapan kagum. "Kau cantik sekali, Hyojin-nie. Kau mau kemana?" tanya eomma. "Aku mau ke acara pernikahan sunbaeku, eomma. Aku akan naik taksi saja," jawabku sambil memaksakan senyum. "Baiklah. Hati-hati dan jaga dirimu baik-baik, ya?" "Ne, eomma."
Aku berpamitan pada eomma, lalu keluar rumah dan mencegat taksi yang tak sengaja lewat di depan rumah. "Riviera Hotel, pak," ujarku. "Baik, agasshi."
Sesampainya di hotel, aku segera masuk ke ruang resepsi pernikahan. Dan pemandangan menyakitkan itu harus kulihat lagi. Ya, Yoongi sunbae dan Jinyoung eonni tertawa bahagia diatas pelaminan. Aku menghela napas dalam, lalu berjalan mendekati mereka, dengan berusaha keras untuk tersenyum.
"Selamat atas pernikahan kalian, eonni, sunbae."
"Terima kasih banyak, dongsaengie," ujar Jinyoung eonni, lalu memelukku.
"Kau cantik sekali hari ini," puji Yoongi sunbae.
"Terima kasih, sunbae. Ku doakan semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia selamanya. Ah, aku punya hadiah untuk kalian."
Aku memberikan kotak berukuran sedang berisikan jam tangan tadi pada Jinyoung eonni.
"Semoga kalian suka dengan hadiah yang kuberikan. Maaf jika hadiahnya tidak bagus," sambungku.
"Terima kasih banyak, dongsaengie. Semoga kau cepat menyusul, ya?" ujar Jinyoung eonni.
Aku hanya tersenyum pada mereka, lalu membungkuk, dan turun dari pelaminan. Aku sengaja tidak ingin berlama-lama disana, karena aku takut hatiku semakin sakit.
=========================
Seminggu kemudian, aku berjalan di jembatan Sungai Han, sambil meletakkan tanganku di saku jaketku, karena ini masih musim dingin, jadi udara disekitarku dingin. Bahkan saat aku menghembuskan napasku lewat mulut, akan keluar asap seperti merokok. Aku tertawa pelan karenanya.
Aku menghadapkan tubuhku kearah Sungai Han, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasku. Aku hanya tersenyum kecil melihat benda itu, kotak musik pemberian Yoongi sunbae. Aku membukanya dan melihat gelang yang ada didalamnya, lalu mendengarkan musik yang mengalun dari kotak musik itu. Aku tersenyum pedih, sambil menatap gelang itu, dan mengingat-ingat semuanya.
Hari pertama aku mengenal Yoongi sunbae. Lalu hari dimana aku menyadari bahwa aku mencintainya. Hari saat aku menonton film di bioskop bersamanya. Hari dimana ia memberiku kotak musik ini. Hari dimana aku mengetahui bahwa dia mencintai Jinyoung eonni. Hari dimana dia dan Jinyoung eonni dikeluarkan dari sekolah. Dan yang terakhir adalah hari bahagia mereka. Mereka saling memandang satu sama lain penuh cinta.
Aku menarik napas dalam-dalam. Setelah lagu itu berakhir, aku menutup kotak musik yang masih ada gelang didalamnya. Aku tersenyum pedih, airmata sudah mengalir di pipiku sejak tadi. "Kurasa, aku sudah belajar dari hari pernikahan kalian kemarin, bagaimana caranya untuk merelakan dan melepaskanmu, cinta pertamaku, Min Yoongi."
Aku membuka kotak musik itu, lalu menjatuhkannya ke Sungai Han beserta gelangnya. Biarlah kubuang semua kenangan manis dan pahit itu, sebagai caraku merelakan Yoongi sunbae untuk Jinyoung eonni. "Tuhan, jika boleh, aku meminta agar aku mendapatkan cinta yang bisa membalas cintaku apa adanya. Yang tak akan meninggalkanku dalam keterpurukan dan akan membuatku selalu tersenyum dan nyaman setiap berada di dekatnya," pintaku, sambil menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu menghapus airmataku.
Aku terus berjalan menyusuri jembatan Sungai Han, sampai akhirnya aku sampai di tepi Sungai Han. Aku memilih duduk di sebuah bangku panjang yang kosong, kemudian mendengarkan lagu, sambil memejamkan mata. Cukup lama aku berdiam seperti itu, mungkin orang mengira aku tertidur. Sampai tiba-tiba, aku merasa seseorang duduk di sampingku.
Aku membuka mata perlahan, kemudian menoleh, dan terkejut mendapati ada sosok laki-laki duduk disamping kananku. "S..ss..siapa k..kau?" tanyaku tergagap. Lelaki itu menatapku, lalu tersenyum. Sepertinya wajahnya tidak asing bagiku, walau aku tidak mengenalnya.
"Kau lupa siapa aku? Ah, aku tidak menyalahkanmu, karena setiap kita bertemu di sekolah, kita selalu bertabrakan, sunbae."
"S..sun..sunbae?"
"Iya. Kau Song Hyojin, kan? Siswi tahun ketiga Cheongdam High School, wakil ketua komite siswa yang baru, sebelumnya kau menjabat sebagai wakil ketua bagian lapangan, yang suka bernyanyi dan memainkan biola juga piano?"
Aku terkejut. Darimana dia tahu semua itu?
"Bagaimana kau tahu?"
"Tentu saja. Aku adalah penggemarmu di sekolah, sunbae."
Aku terkesiap saat lelaki itu berkata begitu. Bagaimana dia tahu semua tentang aku? Aku mencoba untuk mengingat-ingat tentang siapa lelaki ini. Kemudian aku teringat kalau aku memang sering tidak sengaja bertabrakan di sekolah dengan.. hoobae ku ini. Aku menatapnya dan ia tersenyum.
"Sudah ingat?"
Aku hanya mengangguk. Senyum hoobaeku ini semakin mengembang.
"Namaku Jeon Jungkook, sunbae." Ia membungkuk kecil padaku. Aku membalasnya dengan membungkuk kecil juga.
"Aku Song Hyojin. Kau pasti sudah mengetahuinya." Aku tertawa kecil.
"Siapa yang tidak kenal denganmu di sekolah, sunbae. Kau adalah murid terpandai di sekolah."
"Ah, tidak. Ada yang lebih pandai dariku."
Ia kemudian menyerahkan sebuah cup padaku.
"Ini, sunbae. White Mocca Coffee hangat kesukaanmu. Cuaca sedang dingin. Lebih baik kau minum sesuatu yang hangat untuk membuat dirimu sendiri hangat."
Aku menerimanya dengan tersenyum. Ini untuk pertama kalinya aku bisa tersenyum manis setelah hari menyakitkan itu.
"Kau ini stalker, ya? Bagaimana kau bisa tahu jenis kopi kesukaanku?" gurauku.
"Itu bukanlah rahasia, sunbae. Hoseok sunbae dan Namjoon sunbae yang memberitahukannya padaku."
Aku tertawa setelah meminumnya. Jadi ini ulah mereka berdua? Awas saja kau, Rap Monster dan J-Horse. Kami berdua akhirnya duduk bersama di tepi Sungai Han sambil bercanda dan menikmati udara dingin yang berhembus disekitar kami.
============THE END============

Tidak ada komentar:
Posting Komentar